Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

KAMU ADALAH MASTERPIECE-NYA TUHAN

Ringkasan khotbah Pdt. Chris Manusama. Minggu, 02 September 2018.

 

Sebagai pembangun bukan berarti kita terbebas dari masalah, bukan berarti kita bebas dari pergumulan, tapi sebaliknya akan ada banyak masalah yang kita hadapi dan satu hal yang harus kita pegang adalah “Jangan menyerah”.

Kenapa kita tidak boleh menyerah? Karena apabila kita menyerah, itu artinya kita berhenti. Apabila kita berhenti, artinya kita tidak akan pernah sampai di tempat yang Tuhan ingin kita ada di sana. Ada banyak faktor yang membuat kita dapat menyerah dan salah satunya ialah intimidasi. Suara-suara yang muncul dalam pikiran kita akan mengatakan hal-hal negatif sehingga membuat kita menghukum diri kita sendiri.

Untuk generasi, mengikut Tuhan tidak ada kata “berhenti”, tapi mengikut Tuhan adalah “jalan terus”. Tuhan kita adalah Tuhan pergerakan. Apa yang kita alami sekarang bukanlah akhir dari segala sesuatu. Tuhan tidak iseng-iseng menciptakan kita, Tuhan tidak iseng-iseng melahirkan kita ke dunia ini.

“Kita adalah ‘Masterpiece-Nya’ Tuhan”. Seringkali kita mengukur diri kita dari ukuran-ukuran yang dunia pakai. Sebab kita mengukur keberhargaan kita dari karier, status sosial dan harta kekayaan yang kita miliki. Secara rohani kita harus melihat bahwa ukurannya bukan hal-hal di atas.  Identitas kita tidak dibangun di atas karier dan status sosial kita di masyarakat, tapi identitas kita dibangun di atas Kristus yang mati untuk kita.

Pengkhotbah 3:1-8 TB 1Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. 2Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; 3ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; 4ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; 5ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; 6ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; 7ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; 8ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Kalimat “ada waktu untuk…” diulang sebanyak 28 kali dalam delapan ayat di atas. Namun ada satu yang tidak disebutkan dan tidak ada dalam ayat di atas yaitu, “tidak ada waktu untuk berhenti”. Kenapa? Karena “berhenti” artinya “menyerah”. Sedangkan kita tidak mempunyai waktu untuk berhenti dalam hidup ini, sebab hidup ini adalah perjalanan. Artinya kita tidak punya waktu untuk menyerah.

Kita semua sangat berarti di mata Tuhan lebih dari yang kita pikirkan. Mungkin kita sering jatuh, tapi firman Tuhan berkata, “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16).

Seringkali kita takut untuk jatuh dan itu akhirnya membuat kita berhenti dengan apa yang kita lakukan saat ini. Tetapi, satu hal yang harus kita sadari adalah Tuhan tidak merubah pandangan-Nya terhadap kita ketika kita jatuh. Namun, lewat kasih karunia-Nya kita akan bangkit dan berjalan mengikuti Dia. Jika kita ada sampai hari ini, artinya Tuhan benar-benar menginginkan kita untuk ada.

Ada satu contoh tokoh Alkitab yang sering kita dengar namamya, yaitu Yohanes pembaptis. Dia yang diberi kesempatan untuk membaptis Tuhan. Waktu berjalan, Yohanes mendapati dirinya di dalam penjara sendirian dan tidak ada yang menolong dia, semangatnya hancur. Dalam prosesnya Yohanes ditolak dan dia diolok-olok. Di dalam penjara dia menunggu waktu dieksekusi dan dia berharap ada orang yang datang memberikan semangat kepadanya. Di dalam keadaan “titik nol” di mengirim utusan kepada Yesus.

Matius 11:2-3 TB 2Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, 3lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Ini adalah pertanyaan orang yang tertekan, dia merasah seperti orang yang kalah, seorang pecundang. Kondisi ini mungkin mewakili kita dalam banyak hal. Akhirnya timbul pertanyaan, “Apakah penyerahan diri saya selama ini, hasilnya hanya seperti ini?” Di saat inilah intimidasi datang.

 

Apa respon Tuhan terhadap Yohanes?

Matius 11:4-6 TB  4Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: 5orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. 6Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

Jika kita sekarang ini dengan semangat berkata bahwa kita adalah “pembangun”, harusnya kita tidak kecewa dengan Tuhan, apapun yang terjadi. Karena kecewa sama dengan berhenti. Dan kecewa sama dengan kita menolak Tuhan.

“Kecewa sama dengan berhenti dan menolak TUHAN”

Matius 11:8-11 8Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. 9Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. 10Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. 11Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.

Yohanes tidak bisa melihat apa yang Tuhan lihat sehingga dia tidak tahu betapa besar kasih Tuhan terhadap dia, dan betapa Tuhan sangat mengasihi dia. Di dalam kondisi yang sama, mungkin kita akan merasa bahwa Tuhan tidak datang untuk melihat keadaan kita, tetapi janganlah menjadi kecewa karena sesungguhnya kita hanya tidak sanggup melihat apa yang sedang dilakukan Tuhan dalam kehidupan kita. Kita harus tahu bahwa kita berarti untuk Tuhan, seburuk apapun keadaan kita.

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Tuhan bisa saja menghapus mereka dari kehidupan dunia ini. Jika Tuhan melakukan hal itu, artinya Dia pernah gagal sebagai Tuhan. Namun  Tuhan kita bukanlah Tuhan yang gagal, sebab itu Dia telah menyediakan rencana penebusan bagi manusia yang berdosa. Tuhan tidak berurusan menggantikan orang-orang rusak, tapi Tuhan berurusan memperbaiki orang-orang yang rusak. Dia tidak menyingkirkan kita, tapi Dia mentransformasi kita. Sebab itu Firman harus di atas segalanya, karena Firman akan mentransformasi kita.

Kita adalah makhluk yang paling berharga yang pernah Tuhan ciptakan. Hanya saja seringkali kita tidak menyadarinya, bahkan kita lupa bahwa Yesus rela mati untuk menebus kita dari dosa. Tuhan tidak pernah menyesal menciptakan kita, dan keinginan-Nya adalah supaya hidup kita bisa sampai pada apa yang telah Dia sediakan. Hanya satu kunci untuk kita dapat sampai dan menikmati semua yang Tuhan sediakan, yaitu hidup sesuai dengan firman Tuhan. Amin.

Leave a Reply