Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

SIKAP HATI SEORANG PEMBANGUN

Ringkasan khotbah Pdp. Adolf Sohilait. IR II Minggu, 26 Agustus 2018.

 

Ketika kita membaca Yesaya 58:12, kita akan menemukan tiga kata kerja, yaitu: Membangun, memperbaiki dan membetulkan. “Membangun” artinya kita mendirikan sesuatu. Misalnya: Kita mendirikan sebuah rumah atau gedung, dimulai dari fondasi, dindingnya, atapnya, konstruksi bangunannya. “Memperbaiki” artinya kita membuat sesuatu yang sudah ada menjadi lebih baik, lebih bagus dan lebih rapih. “Membetulkan” artinya kita memperbaiki yang salah atau rusak (Sesuatu yang sudah ada, kita sudah membangunya, tapi ada kerusakan-kerusakan yang mungkin karena kita salah membangunnya dari awal. Kemudian sekarang  kita coba untuk membetulkan kerusakan-kerusakan itu.  Yesaya berkata, “Engkau akan membangun….” Jadi bukan orang lain, tapi masing-masing kita yang akan membangun.

Untuk kita dapat membangun, memperbaiki dan membetulkan, hal-hal yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita adalah:

  1. Kita harus mendengar dari pribadi yang merancang hidup ini tentang bagaimana harus membangun, memperbaiki dan membetulkan.

Yesaya berkata, “Engkau akan membangun….” Pertanyaannya, “Bagaimana kita dapat membangun, kalau kita tidak mau mendengar apa yang disampaikan oleh pribadi yang merancang dan membentuk hidup kita?”

Yohanes 5:19 TSI  …, “Apa yang Aku katakan ini memang benar: Aku— sebagai Anak dari Bapa-Ku, tidak bisa mengerjakan sesuatu atas kemauan-Ku sendiri, tetapi Aku melakukan apa yang Bapa-Ku sedang kerjakan. Apa yang Aku lihat Bapa-Ku lakukan, itu juga yang Aku lakukan.

Yesus memberikan contoh kepada kita bahwa kalau kita mau membangun keluarga kita, usaha kita atau hidup kita, tidak ada cara lain selain kita harus miliki sikap hati yang mau mendengar dari Tuhan. Sebab Dia tahu tentang rancangan-rancangan-Nya terhadap hidup kita.

Dalam Kejadian 6 diceritakan bagaimana Nuh membangun sebuah bahtera dengan ketaatan. Literatur menulis bahwa diperkirakan bahtera itu dikerjakan selama hampir 100 tahun. Dalam jangka waktu yang lama itu, Alkitab tidak menjelaskan bahwa ditengah perjalanan Tuhan datang dan menguatkan Nuh untuk tetap sabar mengerjakan bahtera itu. Jika kita membaca Alkitab dengan teliti, dijelaskan bahwa Nuh mengerjakan bahtera itu dengan ketaatan sesuai dengan apa yang Tuhan firmankan kepadanya. Dalam Kejadian 12 Abraham berani mengambil sebuah keputusan untuk membawa keluarganya ke tempat yang belum dia ketahui.

Jika kita membaca Kejadian 6 dan Kejadian 12, diceritakan bagaimana kedua pribadi ini mengambil keputusan untuk taat kepada Tuhan. Bagaimana kedua pribadi ini mengambil satu keputusan untuk sesuatu yang belum pasti dan kelihatan mustahil. Pertanyaannya, “Apa yang membuat mereka berani untuk melakukannya?” Nuh dan Abraham memulai dengan mendengar  Tuhan berbicara.  Kejadian 6:13 “Berfirmanlah Allah kepada Nuh: …”   Kejadian 12:1 “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: …” Jadi ada suara Tuhan yang datang kepada Nuh dan Abraham sehingga mereka berani mengerjakan sesuatu yang ujungnya belum pasti.

Untuk kita membangun, memperbaiki dan membetulkan, harus dimulai dengan mendengar apa yang dikatakan Tuhan. Jangan dimulai dengan apa kata orang, jangan dimulai karena suatu kondisi. Untuk menjadi seorang pembangun tidak ada cara lain, selain dimulai dengan sikap hati yang mau mendengar suara Tuhan.

Mengapa kita harus memilih mendengar suara Tuhan? Sebab Tuhanlah yang menjadikan kita. Hanya penciptalah yang tahu untuk apa kita diciptakan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita di hari esok, tapi Tuhan sangat tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan kita.

Mazmur 139:13,16 FAYH  13Engkaulah yang membuat bagian-bagian halus di dalam tubuhku dan menenunnya di dalam rahim ibuku. 16Sebelum aku lahir, Engkau telah melihat aku. Sebelum aku mulai bernafas, Engkau telah merencanakan setiap hari hidupku. Setiap hariku tercantum dalam Kitab-Mu!

Mazmur menjelaskan bahwa Tuhanlah yang menjadikan, membentuk dan menenun kita dalam rahim ibu kita. Waku Tuhan menenun kita, Dia teliti dan sabar. Dia menaruh tujuan-tujuan-Nya dalam hidup kita, apa yang akan terjadi dengan kita di waktu yang akan datang. Alkitab berkat hari-hari hidup kita tercatat dalam buku kehidupan-Nya. Sebab itu kita harus mempunyai sikap hati yang mau mendengar apa yang Tuhan sampaikan. Jika kita memilih untuk tidak mendengarkan apa yang Tuhan katakan, kemungkinan besar kita membangun tidak sesuai dengan apa yang Tuhan rancangkan dari awal tentang kehidupan kita.

Membangun sebuah bangunan di atas reruntuhan sangat berbeda dengan membangun sebuah bangunan di atas lahan yang baru. Membangun di atas reruntuhan memerlukan waktu yang panjang  dan tenaga yang lebih besar. Tapi kalau kita membangun dimulai dengan sikap hati untuk datang dan mendengar pribadi yang merancang hidup kita,  tidak ada perkara yang sulit.

I Samuel 8:5-10, 19-22  Jika kita membaca di pasal-pasal sebelumnya, Tuhanlah yang menjadi raja, pemimpin dan memerintah  atas bangsa Israel. Tapi tiba-tiba mereka datang dan meminta raja. Apa yang dilakukan oleh bangsa Israel pada waktu itu, Alkitab dengan jelas menunjukan bahwa mereka tidak memulainya dengan apa kata Tuhan. Bangsa Israel tidak memulai dengan mendengar apa yang firman Tuhan katakan.

Hal yang dapat kita pelajari adalah “Hati-hatilah dalam membangun kehidupan kita.” Sebab Tuhan berkata kepada Samuel, “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, …” Perkataan ini disampaikan oleh Tuhan sebanyak tiga kali (I Samuel 8:7, 9, 20). Jangan-jangan apa yang sedang kita bangun, apa yang sedang kita inginkan, membawa kita pada satu proses yang sangat panjang, karena kita tidak memilih untuk mendengar dari Tuhan. Kita akan membayar harga yang mahal untuk satu keinginan, untuk satu hal yang kita mau bangun tanpa kita mendengar dari Tuhan.

 

  1. Waktu kita memutuskan sesuatu dalam hidup kita tanpa mendengar Tuhan, kita sedang menolak rancangan Tuhan atas hidup kita.

I Samuel 8:7 TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.

Bukan Samuel yang ditolak oleh bangsa Israel, tapi Alkitab menjelaskan bahwa Tuhanlah yang mereka tolak. Ketika kita memutuskan sesuatu dalam hidup kita, ketika kita membangun keluarga, rumah tangga atau pribadi, tanpa kita mendengarkan Tuhan, jangan-jangan kita sedang menolak apa yang Tuhan rancangkan atas hidup kita.  “Pilihlah untuk mendengar, mulailah dengan mendengar Tuhan!”

 

  1. Waktu kita memutuskan untuk tidak mendengar dan menolak rancangannya, maka kita akan membayar harga yang cukup mahal untuk apa yang kita pilih.

I Samuel 8:11-18, itulah ayat yang muncul ketika bangsa Israel memilih untuk mempunyai seorang raja. Delapan ayat muncul ketika Israel memilih untuk tidak mendengar Tuhan.  Bangsa Israel ingin sama dengan bangsa-bangsa lain. (I Samuel 8:20). Waktu kita membangun kehidupan pribadi dan kita memilih sama dengan orang lain di sekeliling kita, jangan-jangan delapan ayat ini terjadi dalam kehidupan kita. “Mari membangun kehidupan kita dimulai dengan mendengar apa kata Tuhan. Miliki sikap hati yang mau selalu mendengar dari Tuhan.”

I Raja-raja 17:2-6  Ini kisah tentang Elia dimana Tuhan perintahkan Elia untuk ada di sungai Kerit. Elia harus memilih untuk ada di sungai Kerit dahulu supaya burung gagak bisa datang membawa roti dan daging kepadanya. Seandainya Elia memilih untuk tidak mendengarkan Tuhan, andai kata Elia memilih untuk tidak pergi ke sungai Kerit, percayalah bahwa burung gagak tidak akan pernah datang kepada Elia.  Seringkali kita tidak mau ada di sungai Kerit, kita tidak mau ikut apa yang Tuhan katakan, tapi kita mau burung gagak datang membawa makanan. Semua berkat Tuhan harus dimulai dari ketaatan kita terhadap firman Tuhan. Seringkali kita membangun rumah tangga kita, kita membangun usaha kita dengan sesuatu yang tidak kita dengar dari Tuhan. kita mau mujizat terjadi, kita mau kesembuhan terjadi, kita mau pemulihan terjadi, kita mau ekonomi kita meningkat, tapi semuanya harus dimulai dengan ketaatan lebih dahulu. Jangan harap mujizat akan terjadi kalau kita tidak ada di sungai Kerit. Elia tidak akan mengalami mujizat kalau dia tidak ada di sungai Kerit.

Jangan takut dengan apa yang sedang kita jalani saat ini, jika kita ada di tempat yang Tuhan kehendaki. Jangan takut atau kuatir dengan pekerjaan kita saat ini, yang penting adalah kita memilih mendengar apa kata Tuhan. Kecenderungan kita dalam membangun rumah tangga atau pekerjaan adalah kita mau sama dengan orang lain. Sama dengan Israel yang meminta raja supaya sama dengan bangsa-bangsa lain. Jika Tuhan menghendaki kita ada di suatu tempat, taatilah. Sebab Tuhan bertanggung jawab untuk mengirim burung gagak datang membawa roti dan daging kepada kita.

Pilihlah untuk taat dengan apa yang Tuhan katakan, sekalipun kelihatannya tidak populer dan kelihatannya tidak menyenangkan. Dimulai dengan mendengar suara Tuhan, seperti Elia mendengar suara Tuhan untuk pergi ke sungai Kerit. Miliki sikap hati yang mau selalu mendengar apa kata Tuhan dan mentaatinya. Amin.

Leave a Reply