Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

BIARKAN TUHAN YANG MEMBANGUN

Ringkasan khotbah Pdt. Ris Maulany. Minggu, 05 Agustus 2018.

 

Yesaya 58:12 TB Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.

Ayat tersebut merupakan suatu landasan bagi kita untuk menjadi generasi yang membangun, memperbaiki, dan membenarkan hal-hal yang tidak benar sebelumnya. Tanpa kita sadari, sekarang, kita juga sedang dibangun oleh Tuhan. Satu-satunya cara agar kita bisa berjalan dengan Tuhan dan menjadi pembangun adalah dengan mengenal Dia. Namun, kita tidak akan bisa membangun apabila kita ada dalam sikap dan kondisi hati yang tidak benar. Rasa kecewa, marah, ragu, takut dan lain-lain akan menghalangi kita untuk membangun. Bukan hanya membangun hal-hal secara fisik, tetapi juga membangun prinsip dan kehidupan kita.

Ketika kita membaca “Biarkan Tuhan membangun”, mungkin diantara kita akan berpikir bahwa kita akan diam saja dan Tuhan yang mengerjakan semua, atau hanya orang-orang yang mengenal Tuhan saja yang akan membangun.

Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang “Biarkan Tuhan membangun”:

  1. Mazmur 127:1 TB Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.

Kata “membangun” dalam bahasa Ibrani adalah “Banah”, yang sebenarnya mempunyai arti membangun keturunan. Keturunan itu sendiri berbicara tentang generasi. Itulah yang dimaksudkan dalam Mazmur, bahwa Tuhan lah yang membangun.

  1. Amos 9:11 TB Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu kala.

Dari ayat di atas, jelas dikatakan bahwa Tuhan yang membangun pondok Daud. Membangun adalah pekerjaan Tuhan, bukan gereja, persekutuan, maupun seorang pengkhotbah yang bagus.

 

Kata “biarkan” Tuhan membangun artinya kita harus pakai cara dan jalan-Nya Tuhan, bukan cara, jalan dan pikiran kita. Seorang pembangun adalah seseorang yang menyiapkan dan merancangkan segala sesuatu untuk kedepannya.

 

Dari mana kekuatan yang kita dapat untuk membangun hidup kita?

Jika kita mengakui bahwa semua hikmat, kekuatan, kepintaran dan lain sebagainya didapat dari Tuhan, kenapa kita tidak membiarkan Tuhan yang bekerja dengan cara-Nya sendiri? Sering kali kita melakukan kehendak Tuhan tetapi menggunakan cara kita sendiri dan bukan cara-Nya.

2 Raja-raja 5:1 TB Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta.

Ayat di atas sedang menceritakan tentang seseorang yang terpandang, punya jabatan, dan kaya, tidak dapat menghindar dari yang namanya “masalah”. Sejahtera secara jasmani bukan berarti kita bebas dari segala masalah. “Kusta” dalam ayat ini memiliki banyak pengertian, namun yang pasti itu adalah suatu hal yang menjijikan dan sangat dihindari semua orang pada jaman itu. Dalam ayat-ayat selanjutnya diceritakan bahwa Naaman mendapatkan saran untuk pergi ke nabi yang ada di Samaria supaya dapat disembuhkan.

Orang bisa mendengar Injil dari siapa saja, bisa dengar kabar baik dan dengar cerita tentang Yesus dari mana saja, tetapi keputusan ada pada kita dan keputusan tersebut harus diambil. Keputusan apapun yang kita ambil, pasti mempunyai resiko. Akan ada “tantangan keadaan” yang harus kita hadapi dan harus kita menangkan. Tantangan keadaan tersebut yang membuat kita belajar untuk bagaimana berespon dengan benar. Tidak hanya sampai di situ, selanjutnya kita akan ditentang dengan “tantangan kerendahan hati”. Tidak mudah untuk seseorang yang berpangkat, punya jabatan tinggi, kaya, dan ternama untuk menyerah begitu saja.

2 Raja-raja 5:11-12 TB Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?” Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati.

Ayat di atas jelas tertulis bahwa Naaman marah karena nabi Elisa menyuruhnya untuk mencelupkan diri di sungai Yordan. Dia menjadi marah bukan karena hal yang diperintahkan adalah hal yang sulit, tetapi Naaman marah karena dia sedang mempertahankan gengsi dan harga diri yang dia punya. Tetapi kemudian pada ayat-ayat selanjutnya diceritakan bahwa Naaman memilih untuk mendengar dan melakukan apa yang diperintahkan Nabi Elisa. Dia memilih untuk merendahkan hatinya dan taat agar dia menjadi sembuh.

Apakah Elisa yang menyembuhkan Naaman? Jika kita perhatikan, sikap hati Naaman mempengaruhinya untuk berespons terhadap keadaan, dan Tuhan memberikan kesembuhan bagi dia. Pelajaran yang sangat penting di sini yaitu:  Tanpa kerendahan hati tidak akan ada pemulihan, karena kerendahan hati yang membawa kita kepada cara dan kehendak Tuhan.

Saat di mana kita merasa mengetahui segalanya, mengerti semuanya, merasa lebih banyak melakukan pekerjaan dari orang lain, dan merasa selalu benar adalah sikap tinggi hati yang tidak akan bisa membawa kita ke dalam cara-Nya Tuhan. Penyembahan tidak identik dengan kegiatannya dan juga tidak dimulai dengan kebiasaan ritual, tetapi penyembahan dimulai dengan pengenalan akan Tuhan. Penyembahan yang murni terjadi ketika kita kenal siapa yang kita sembah.

Naaman setelah dia disembuhkan, dia menjadi seseorang yang baru. Bukan hanya karena penyakitnya sembuh, tetapi karena sikapnya yang diubahkan oleh Tuhan.

Attitude merupakan sikap hati kita terhadap seseorang atau sesuatu yang terjadi di sekitar kita.  Filipi 2:5 TB Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. …

Attitude yang dimaksudkan ialah pikiran dan perasaan kita sama seperti Yesus.

 

Hal yang akan kita pelajari bersama adalah:

  • Kehausan di dalam kita akan membuat Tuhan mengerjakan pembaharuan di hati kita (sikap hati).

Mazmur 51:10 ISV God, create a pure heart in me, and renew a right attitude within me. (Baharuilah sikap hati yang benar di dalam saya).  Sering kali kita mau sibuk dengan pekerjaan Tuhan tanpa bertanya apa yang harus dikerjakan sebagai bagiannya kita, karena kita pikir kita mampu.

  • Sikap hati adalah sesuatu yang terbangun dari dalam.

Efesus 5:15 TB Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.

Kata “bagaimana kamu hidup” mempunyai arti yaitu kehidupan yang terjaga. Jadi bagaimana kita harus menjaga hidup, perkataan, sikap, dan apapun yang kita perbuat kepada orang lain. Cara agar kita bisa menjaga hidup kita adalah dengan membiarkan Tuhan bekerja dan berbicara di dalam kita.

 

Mazmur 107:17-22 TB  17Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka; 18mereka muak terhadap segala makanan dan mereka sudah sampai pada pintu gerbang maut. 19Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, 20disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur. 21Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia. 22Biarlah mereka mempersembahkan korban syukur, dan menceritakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dengan sorak-sorai!

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita berbicara dengan Tuhan. Di dalam kesesakan, kecemasan dan banyak hal yang menghimpit, Tuhan tahu apa yang sedang terjadi. Ketika ada pertemuan antara hati kita dan hati Tuhan, maka di situlah firman Tuhan bekerja. Apabila kita terbiasa merenungkan firman Tuhan, kita akan menjadi lebih peka untuk mendengar suara-Nya dan kita akan lebih kenal akan suara tersebut. Amin.

Leave a Reply