Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

REAKSI YANG BENAR

Ringkasan khotbah Pdp. Adolf Sohilait. IR III Minggu, 29 Juli 2018.

 

Sadarkah kita bahwa seringkali apa yang kita bangun dalam kehidupan kita merupakan warisan dari generasi yang ada sebelum kita? Contoh: Apabila seseorang yang tumbuh di lingkungan yang penuh dengan kekerasan, maka kemungkinan besar hal itu akan mendominasi apa yang dia lakukan. Tetapi waktu seseorang mengalami Kristus, perubahan akan terjadi dan warisan tersebut akan berhenti dan diganti dengan dasar yang baru.

 

Siapa itu generasi pembangun?

Tidak peduli apa yang menjadi latar belakang kita, baik status, keuangan, pendidikan, dan sebagainya, kita semua adalah generasi pembangun.

 

Yesaya 58:12 (TB)

Salah satu dasar yang perlu kita perbaiki dalam kehidupan kita adalah reaksi kita. Dasar ini perlu kita perbaiki baik dalam rumah tangga, pribadi, kantor dan di manapun kita berada. Hal ini adalah tentang bagaimana kita bereaksi ketika kita berada dalam persoalan, saat suatu proses datang, maupun ketika kita menghadapi masalah apapun yang ada.

Dalam Matius 7, Yesus menceritakan tentang orang yang membangun rumah di atas pasir dan batu. Tuhan tidak mengatakan bahwa rumah yang paling bagus adalah yang dibangun di atas pasir ataupun batu, tetapi maksud Tuhan adalah akan ada waktu di mana “banjir” maupun “hujan” itu datang. Dalam kehidupan kita, tidak peduli bagaimana keadaan dan latar belakang kita, bahkan yang rajin beribadah sekalipun, “banjir” atau “hujan” pasti akan datang. Tetapi yang akan membuat kita berbeda adalah tentang bagaimana kita bereaksi dalam menghadapi masalah tersebut.

Seseorang dapat dilihat hidupnya dari bagaimana orang tersebut bereaksi. Ketika tekanan maupun persoalan datang, kita akan mengetahui bagaimana kehidupan seseorang. Masalah dan persoalan akan menguji apakah kita membangun dasar rumah kita diatas batu atau pasir.

 

Kisah Para Rasul 2:1-13 (TB)

Pada waktu itu, para murid sedang menantikan janji Tuhan yaitu Roh Kudus yang akhirnya turun dan memenuhi mereka seperti yang dikatakan pada ayat 4. Mereka pun dipenuhi dan bermanifestasi Roh Kudus. Peristiwa ini membuat orang-orang di sekitar mereka menjadi tercengang-cengang (ayat 7). Akan tetapi ada pula yang mengejek maupun menyindir bahkan menertawakan mereka (ayat 13).

 

Dari peristiwa ini ada beberapa poin yang dapat kita pelajari, yakni:

1)      Dipenuhi Roh Kudus bukan berarti kita bebas dari masalah.

Seringkali kita berpikir bahwa dengan bertobat, lahir baru, rajin beribadah dan melayani Tuhan, maka kita tidak akan mengalami masalah dan semuanya akan aman. Inilah dasar yang perlu kita perbaiki dalam kehidupan kita.

Pada saat yang bersamaan ketika murid-murid sedang mendemonstrasikan kuasa Allah, orang-orang pun mengolok-olok mereka. Saat kita melakukan firman Tuhan maupun memilih kebenaran dan dipenuhi Roh Kudus, pada saat yang sama pula iblis sedang berusaha untuk meruntuhkan apa yang kita bangun.

Yohanes 10:10 (TB) Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Iblis akan selalu berusaha untuk membunuh iman kita. Masalah akan datang bukan hanya saat kita berada di luar Tuhan, atau saat Roh Kudus tidak ada, melainkan saat sebaliknnya. Yesus pun dicobai saat Roh Kudus penuh di dalam-Nya.

Reaksi kita terhadap setiap tekanan, masalah maupun persoalan yang datang akan menentukan apakah kita akan keluar sebagai pemenang atau sebagai orang yang kalah. Tuhan tidak pernah menjanjikan kita menjadi orang yang kalah, bahkan Tuhan menjanjikan kita menjadi lebih dari seorang pemenang. Masalahnya reaksi kitalah yang membawa kita menjadi orang-orang yang kalah.

 

2)      Dipenuhi Roh Kudus membuat kita bereaksi dengan benar.

Hal ini dapat kita lihat pada Kisah Para Rasul 2:14. Saat orang-orang menertawakan mereka, Petrus pun berdiri atau bangkit. Kata “Bangkit” dalam KBBI memiliki makna yaitu: merubah posisi dari posisi sebelumnya baik tidur maupun duduk. Hal ini yang dilakukan oleh Petrus pada cerita tersebut. Petrus merubah posisinya dari posisi yang sebelumnya.

Pada saat persoalan datang dalam kehidupan kita, apa yang menjadi reaksi kita? Apakah kita membiarkan masalah itu menghimpit kita? Ataukah kita memilih untuk mengambil keputusan dan  berani berkata, “Saya mau bangkit?” Pada saat masalah datang, harus ada satu keputusan untuk bangkit dan menghadapi masalah tersebut dan tidak mengundurkan diri. Orang yang tidak mau bangkit akan membiarkan maslaah tersebut menjadi berlarut-larut dan semakin menghimpitnya.

Dasar yang perlu kita perbaiki dalam hidup kita adalah ketika menghadapi masalah atau tekanan, yang juga merupakan warisan dari generasi sebelum kita adalah:

–      Kecenderungan menyalahkan orang lain daripada mengoreksi diri sendiri.

Saat Roh Kudus telah memenuhi kita, seharusnya kita tidak lagi fokus pada lawan kita, tetapi mengoreksi diri sendiri yaitu tentang apa yang perlu kita ubah dari diri kita. Kecenderungan untuk memperhatikan kesalahan orang lain membuat kita lupa untuk membangun dan menjaga diri kita sendiri.

–      Membiarkan masalah menjadi berlarut-larut.

Kita sering tidak mau bangkit untuk menyelesaikan persoalan. Contoh: Pada saat kita konflik dengan pasangan kita, sering kita memilih untuk diam dan kemudian bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tanpa membicarakan tentang masalah tersebut. Hal ini merupakan hal yang perlu kita ubah dengan berani untuk menyelesaikan masalah.

–      Mempertahankan reputasi.

Apabila Roh Kudus memerintah dalam kehidupan seseorang, reaksi orang tersebut akan menjadi berbeda, termasuk dalam mempertahankan reputasinya. Kita tidak menjadi orang yang menuntut permohonan maaf, tetapi menjadi orang yang lebih dahulu meminta maaf. Terkadang kita mempertimbangkan “derajat” maupun jabatan kita. Namun jika Roh Kudus berada di dalam kita, kita akan berekasi dengan benar.

 

Memperbaiki dasar yang telah diwarisi oleh banyak keturunan. (Yesaya 58:12)

1 Samuel 17:3-11 (TB)

Pada cerita tersebut, dapat kita temukan dua reaksi yang berbeda pada saat mereka menghadapi masalah yang sama. Alkitab menjelaskan bahwa Saul dan orang-orang Israel menjadi cemas dan ketakutan (ayat 11), mereka juga memilih untuk lari dan mundur ketika Goliat berdiri di hadapan mereka (ayat 24).

Pada saat persoalan dan masalah “berdiri” di depan kita, apakah kita memilih untuk lari dan mundur? Apakah kita memilih untuk cemas dan khawatir dengan persoalan yang sedang kita hadapi? Hal ini tergantung dari reaksi kita.

Bagaimana reaksi Daud dalam menghadapi persoalan yang sama?

1 Samuel 17:42-43 (TB)

Pada ayat tersebut, Goliat berdiri dan mengatai Daud maupun bangsa Israel. Sama halnya dengan kehidupan kita, terkadang persoalan dan masalah datang dan sangat mengintimidasi kita.

1 Samuel 17:48 (TB)

Daud tidak memilih untuk lari seperti yang dilakukan Saul dan orang-orang Israel, tetapi Daud memilih untuk menghadapi Goliat.

Dalam peristiwa ini kita dapat melihat bahwa, Saul dan Daud menghadapi persoalan yang sama, tetapi reaksi mereka masing-masing berbeda. Semakin kita mendekati masalah atau persoalan, hal itu menjadi kesempatan untuk kita melihat lebih dekat dan mengetahui bagaimana menghadapi masalah tersebut. Pada saat itu, Goliat mengenakan baju zirah yang susah untuk dijatuhkan, tetapi saat Daud berlari untuk menghadapinya, ia menemukan celah yaitu jidat dari Goliat. Apabila Daud memilih untuk mundur, maka tentu ia tidak akan menemukan celah tersebut.

1 Samuel 17:45-46 (TB)

Pada saat persoalan datang, kita harus menghadapi masalah tersebut dengan memperkatakan perkataan kehidupan yaitu dengan Nama Tuhan. Daud pun berkata, “Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau ….” (1 Sam.17:46).

Jangan pernah mundur dari masalah, tetapi berlarilah menghadapi masalah. Saat kita berada di dekat masalah, itu menjadi kesempatan untuk kita mengalahkan atau menyelesaikan masalah tersebut. Pada saat Roh Kudus berada di dalam kita, reaksi kita akan berbeda.

Inilah dasar yang perlu kita perbaiki dalam kehidupan kita, yaitu dengan tidak memilih untuk mundur, melainkan berlari dan menghadapi setiap persoalan, karena janji Tuhan adalah kita akan keluar lebih dari pemenang. Oleh karena itu, kita perlu mengalami Tuhan dalam keseharian kita. Pengalaman inilah yang akan membuat kita berani untuk menghadapi masalah dan bereaksi dengan benar.

Seorang pembangun bukanlah orang yang hebat dalam segala hal, tetapi seorang pembangun adalah orang yang mampu mengasihi, memaafkan, memberkati, melayani, memberi, dan berbagi dengan tulus hati. Amin.

Leave a Reply