Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

GENERASI YANG NYAMBUNG

Ringkasan khotbah Pdt. Ris Maulany. Minggu, 08 Juli 2018.

 

Yesaya 58:12 TB Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.

Ayat ini sebenarnya mempunyai pesan bahwa “ada yang akan diperbaiki”. Terkadang ada hal-hal yang kita lakukan di rumah dan kita berpikir bahwa itu merupakan nilai yang datang dari Tuhan, tetapi sebenarnya kita salah. Dalam Yesaya 58:12 mengatakan bahwa ini saatnya kita membangun dan memperbaiki tembok-tembok yang tembus. Kata lain dari ‘tembus’ dalam bahasa Inggris adalah ‘breach’ atau juga gap (jarak). Jarak membuat kita menjadi susah untuk mencapai tujuan Tuhan. Untuk itu, Yesaya mengakatan bahwa kita harus memperbaiki kembali tembok yang tembus itu agar tidak ada jarak dengan Tuhan.

Wahyu 3:14-18 TB 14“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: 15Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!  16Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, 18maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.

Kalau kita berbicara tentang membangun dan memperbaiki dari dasar, kita tidak akan temui hal yang menyenangkan hati kita saja. Lebih dari itu ialah hati kita yang mau tunduk dalam komitmen untuk membangun kembali. Sering kita menyepelekan hal-hal mendasar,  tapi tanpa kita sadari,  dasar itulah yang sangat menentukan kokoh atau tidaknya bangunan yang ada di atasnya.

Suam-suam kuku menggambarkan keadaan kita yang tidak jelas terhadap Tuhan. Ketidakjelasan kita terhadap Tuhan membuat kita buta dengan keadaan kita sendiri. Kita berpikir bahwa kita bisa, kaya dan mampu. Tetapi Alkitab berkata bahwa sebenarnya kita melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang. Kita tidak lagi membuat firman Tuhan sebagai penuntun kita, sehingga firman Tuhan tidak lagi dapat mengerjakan sesuatu dalam kita. Hubungan kita menjadi tidak nyambung dengan Tuhan.

 

Dari ayat 17, ada tiga kondisi yang dapat digambarkan:

  1. Kelihatan rohani, bukan berarti benar.

Amsal 16:2 TB Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati.

Bahaya memiliki pandangan sendiri adalah ketika kita berpikir bahwa yang kelihatan rohani adalah hal yang benar. Kebenaran tetap kebenaran, tidak bisa dibelok dan tidak bisa diputar. Kebenaran adalah mutlak.

Matius 6:31-33 TB  31Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 32Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Kita sering kali terlalu banyak menuntut seolah-olah kita tidak mengenal Tuhan. Ketidakpercayaan membuat kita mencari dan mengutamakan kepentingan-kepentingan kita dibandingkan dengan mencari apa yang menjadi tujuan Tuhan. Semua yang kita inginkan dan yang kita dambakan akan menjadi bonus apabila Tuhan yang menjadi fokus kita. Karena memang Tuhan lah yang menjadi kebutuhan utama kita. Khawatir tidak akan membawa dampak baik dalam kehidupan kita sepanjang masa. Kita harus bisa mengerti dan percaya bahwa Bapa tahu apa yang kita butuhkan dan inginkan.

 

  1. Pastikan bahwa tujuan dan hidup kita sejalan.

Efesus 4:1 TB Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

Kata ‘berpadanan’ artinya hidup kita sehari-hari harus sejalan dengan panggilan. Panggilan merupakan tujuan hidup kita, sehingga seluruh hidup kita seharusnya berpadanan dengan panggilan tersebut. Hidup tanpa mempunyai tujuan sangat bahaya untuk kita karena kita tidak tahu kemana harus melangkah. Tetapi, ada hal yang lebih berbahaya dari itu, yaitu, kita tahu tujuan dan panggilan, namun hidup kita tidak diarahkan untuk sejalan dengan tujuan tersebut.

 

  1. Ketaatan adalah mendengar dan melakukan.

Jika kita mau menjadi ‘Generasi yang nyambung’ dengan Tuhan, kita hanya perlu untuk mendengar dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Ketaatan bukan hanya dengar dan senang atau melakukan apa yang tidak disuruh, tetapi ketaatan ialah mendengar dan melakukan.

Matius 7:21-23 TB  21Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.  22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Kita tidak bisa meyakinkan Tuhan dengan kegiatan rohani kita. Tetapi, yang bisa kita lakukan adalah orang yang melakukan kehendak Bapa di sorga. Kita lebih sering mendengarkan khotbah dari pada mendengarkan suara Tuhan, kemudian yang kita lakukan ialah menilai khotbah tersebut. Jika hal ini terjadi berulang kali, maka kita sedang ada di dalam tindakan yang salah. Padahal yang Tuhan mau ialah mendengar  suara-Nya dan lakukan.

Wahyu 3:19-20 TB  19Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!  20Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

Orang yang berhenti bertobat adalah orang yang berhenti bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Merasa cukup dan tidak perlu untuk melihat hal-hal yang lain adalah salah satu tanda bahwa kita buta dengan keadaan sebenarnya yang sedang kita alami. Tanpa kita sadari, kita sedang memposisikan Tuhan di luar hati kita dan membiarkan Dia mengetok pintu hati kita agar bisa masuk. Padahal kitalah yang seharusnya meminta Tuhan untuk masuk dan tinggal bersama dengan kita.

Ada banyak hal yang perlu kita ubah dalam hidup kita, salah satunya ialah cara berpikir kita. Untuk bisa menjadi generasi yang ‘nyambung’ dengan Tuhan, kita harus mempunyai cara berpikir yang selaras dengan Tuhan. Hal ini juga agar semua hal besar yang menjadi tujuan Tuhan dalam hidup kita bisa digenapi.

Ketaatan kita terhadap Tuhan akan membawa kita pada perubahan sikap, terhadap masalah dan keadaan yang terjadi di sekeliling kita. Sebab Tuhan yang besar ada dan hidup di dalam setiap pribadi kita. Amin.

Leave a Reply