Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

GENERASI YANG HILANG

Ringkasan khotbah Pdt. Ruland Letedara. Minggu, 01 Juli 2018.

 

Ulangan 6:6-12

Hakim-hakim2:7-13

Generasi adalah semua orang yang lahir kira-kira pada kurun waktu yang sama. Apabila diterapkan dalam hubungan keluarga, maka ‘Generasi’ dapat diartikan sebagai kelompok keturunan. Istilah generasi juga dapat digunakan sebagai satu ukuran waktu sehubungan dengan waktu-waktu yang telah lalu atau yang akan datang.

Para ahli membagikan generasi pada beberapa fase, atau beberapa bagian:

  1. Generasi ‘Pembangun’ (The Builders Generation). Yang masuk kategori ini adalah usia > 70 tahun.
  2. Generasi ‘Baby Boomers’. Baby Boomers adalah mereka yang lahir setelah masa Perang Dunia II, kira-kira tahun 1946 sampai 1964.
  3. Generasi X. Setelah baby boomers, muncullah Generasi X yang terlahir pada tahun 1960-an akhir hingga 1980-an.
  4. Generasi Y atau Generasi Millienial. Mereka yang disebut bagian dari Generasi Y atau  Millenial adalah yang lahir antara tahun 1980an hingga 2000.
  5. Generasi Z. Mereka yang lahir antara tahun 2001-2010. Istilah lain yang dipakai oleh generasi ini adalah generasi Internet. Saat ini, mereka masih berusia remaja atau anak-anak.
  6. Generasi Alpha (2010 – Sekarang). Seperti halnya Generasi Z yang lahir sebelumnya, mereka yang lahir setelah tahun 2010 sudah familiar dengan teknologi sejak usia yang sangat belia. Banyak dari mereka yang sudah menggenggam smartphone sebelum lancar berjalan atau berbicara. Karena itu, banyak yang beranggapan bahwa generasi ini merupakan generasi yang paling transformatif, terutama dalam hal penggunaan dan pengembangan teknologi.

Maleakhi 2:15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

Sebenarnya yang dimaksud dengan keturunan Ilahi di sini adalah keturunan yang takut akan Tuhan, keturunan yang mengenal siapa penciptanya.

Ulangan 6:6-8, ada kata ‘harus’ di situ, artinya bukan pilihan. Itu instruksi kepada orang tua, khususnya sekarang kepada saudara yang melahirkan generasi Alpha. Instruksi ini sangat penting untuk menjaga kelangsungan generasi yang baik. Tuhan berfirman kepada orang Israel supaya kelangsungan generasi yang mengenal Allah itu dipertahankan. Caranya adalah setiap firman Tuhan yang diberikan, ajarkan itu, investasikan itu kepada generasi selanjutnya.

Ulangan 6:6-7  6Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 7haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

Maksudnya supaya kita jadikan ini gaya hidup dan nilai inti di dalam rumah tangga kita. Tujuannya adalah supaya waktu kita diberkati, waktu kita tiba di tujuan, kita tidak melupakan Tuhan.

Setelah Yosua dan angkatannya meninggal, setelah generasi yang mengenal Allah, generasi yang mengalami mujizat dan berkat Tuhan, bangkitlah generasi yang tidak mengenal Tuhan dan perbuatan-Nya (Hakim-hakim 2:10-13). Alkitab mencatat sejarah perjalanan generasi bangsa Israel, ada dua yang utama, yaitu: Generasi yang lahir di Mesir dan generasi yang lahir di padang gurun. Generasi yang lahir di Mesir, mereka semua mati di padang gurun karena ketidaktaatan mereka. Kemudian muncul generasi yang lahir di padang gurun, yang lahir di dalam perjalanan, yang lahir di dalam pergumulan, yang lahir di dalam pemberontakan umat Tuhan. Lalu Yosua membawa mereka ke tanah Kanaan. Setelah mereka masuk ke tanah Kanaan, bangkitlah generasi yang ketiga yaitu generasi yang tidak mengenal Tuhan.

 

Apa yang dimaksud dengan generasi yang hilang?

Generasi yang hilang bukan berarti mereka semua telah mati. Generasi yang hilang bukan karena mereka kehilangan identitas sebagai bangsa. Generasi yang hilang bukan juga generasi yang meninggalkan budaya atau ciri mereka sebagai suatu bangsa.  Alkitab berkata, “bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.” (Hak.2:10). Jadi yang dimaksud dengan generasi yang hilang adalah generasi yang meninggalkan Tuhan, generasi yang terputus dari sumber kehidupan. Artinya tanpa hubungan dengan Allah kita terhilang. Itu sebabnya bukan kita yang mencari dan menemukan Tuhan, tapi Tuhanlah yang mencari dan menemukan kita. Jadi sekalipun kita hidup di dunia, kita beragama, kita melakukan semua aktivitas seperti manusia yang normal, tapi kita dapat dikategorikan sebagai generasi yang hilang ketika kita tidak hidup seperti yang  Tuhan  kehendaki.  Pertanyaannya, “Apakah kita berhasil melahirkan generasi yang takut akan Tuhan, ataukah kita gagal? Kita mungkin memiliki keturunan yang hebat dan berhasil menurut pandangan dunia, tapi apakah mereka mengenal siapa Tuhan mereka. Mereka beragama tapi apakah  tingkah laku dan kehidupan mereka diwarnai dengan prinsip firman Tuhan.

Kenapa generasi yang muncul kemudian tidak mengenal siapa pencipta dari orang tua dan nenek moyang mereka?

  1. Karena gagalnya pemuridan di rumah.

Sebab pemuridan 24 jam itu terjadi di rumah. Pemuridan di rumah tidak menggunakan buku manual, tapi melalui pengalaman hidup dengan Tuhan. Itulah yang diceritakan dan disaksikan kepada anak-anak kita. Mungkin ada pemuridan di rumah, tapi nilai-nilai yang diberikan tidak berdasarkan firman Tuhan. Contoh: Konflik suami dan isteri dianggap bukan hal yang normal. Kemudian tidak ada penjelasan kepada anak-anak tentang penyebab konflik itu. Contoh lain: Jika kita dibesarkan di dalam keluarga yang mengalami perceraian, kemungkinan besar ‘sakit hatinya’ yang dimuridkan kepada kita. Bahayanya adalah kita memuridkan generasi di rumah dengan pola yang salah.

  1. Pola Pikir (Mindset).

Kebanyakan orang Kristen menerima firman Tuhan tapi sistem kepercayaan mereka tidak berubah. Sejujurnya masih banyak orang Kristen yang mengaku sudah lahir baru tapi masih berperang dengan pola pikir kita yang lama. ‘Salib’ seharusnya menjadi titik balik, atau titik perubahan, tapi seringkali kita tahu hal itu benar tapi kita belum mengizinkan kuasa salib merevolusi hidup kita. Banyak orang Kristen mendengar firman Tuhan, tapi hanya menerima apa yang sejalan, apa yang disetujui, bukan apa yang kita perlukan. Injil bukan hanya berbicara tentang sukses dan berhasil, tapi Injil berbicara tentang bagaimana kita mentaati Kristus dan bagaimana kita meneladani Kristus. Yang harus diingat adalah berkat jasmani bukanlah tujuan keselamatan. Jika kita mau diberkati, caranya dengan mentaati apa yang Tuhan suruh.

Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Representasi generasi: Sebelum generasi kita (G1), ada generasi sebelumnya yang melahirkan kita. Sejak Adam jatuh dalam dosa, semua orang hidup di dalam dosa dan terpisah dari Allah. Hal itu turun sampai kepada generasi kita (G1) saat ini. Sebelum kita (G1) mencapai ‘Salib’ kita telah mendapat banyak hal, ada nilai yang telah kita percayai. Di sinilah pola hidup, mindset, apa yang kita  percayai tentang harga diri, nilai kita, semuanya dibawa.

Setelah kita (G1), kita akan melahirkan generasi yang selanjutnya (G2). Generasi kedua ini hidup dengan warisan yang ditentukan oleh kita (G1). Sejauh mana pemuridan  berjalan sesuai Ulangan 6:6-9, hal itu ditentukan oleh kerja keras dari kita (G1) kepada anak-anak kita (G2). Anak-anak  kita (G2) mungkin beragama, mengikuti ibadah-ibadah, tapi pola pikir mereka ditentukan oleh apa yang mereka lihat dan dengar dari generasi sebelumnya (G1). Setelah mereka (G2) dewasa mereka melahirkan gereasi ketiga (G3). G3 juga akan menghidupi apa yang diajarkan oleh generasi sebelumnya (G2). Jika generasi ini terus berkembang, mereka akan membentuk satu masyarakat. Mayarakat itu terus berkembang dan akan membentuk satu bangsa. Jadi kita ada sekarang sebagai orang Maluku adalah akumulasi dari berkembangnya satu generasi.

Jadi kalau kita percaya bahwa apa yang kita hidup ini adalah kebenaran sesuai firman Tuhan, mari kita pertahankan bersama-sama. Tapi kalau kita tahu bahwa ada yang salah di generasi sebelumnya, itu berarti kita harus menghentikan siklus pemuridan yang salah di generasi kita.  Ketika satu generasi punya reputasi dan nilai yang mereka bawa dalam kehidupan mereka, saat mereka mengenal Tuhan dan datang kepada ‘Salib’.  Semestinya ‘Salib’ menjadi tempat mereka melepaskan semua yang tidak benar yang dibawa dari generasi sebelumnya. ‘Salib’ seharusnya menjadi titik balik, atau titik perubahan. Sebab secara Yuridis (hukum), ‘Salib’ telah menyelesaikan segalanya.

Filipi 3:4-9 Jadi apa yang menjadi kebanggaan Paulus dianggap sampah karena dia berjumpa dengan ‘Salib’. Persoalan bagi kita adalah, “Apakah kita masih pegang reputasi dan kebanggaan kita setelah melewati ‘Salib’? Jika kita masih menganggap orang lain lebih rendah dari kita, berarti ‘Salib’ belum berhasil meremukkan kita di situ.

Pesan ‘Salib’ bukan hanya tentang percaya Yesus dan masuk Sorga, percaya Yesus pasti sembuh, percaya Yesus pasti diberkati. Pesan Salib tidak sesederhana itu. Tapi pesan ‘Salib’ a.l: “Jalan ke Sorga adalah jalan yang sempit.  Sangkal diri, pikul salib setiap hari. Siapa yang menampar pipi kiri, berikan juga pipi kananmu. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Hormati setiap orang sebagaimana engkau ingin dihormati.” Pertanyaannya, “Seberapa banyak warisan nenek moyang yang sudah kita tinggalkan waktu peristiwa kita berjumpa dengan ‘Salib Kristus’?

Yesaya 58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.

Jika kita konsisten dan kuasa Salib itu bekerja penuh merubah kita, kita akan melahirkan generasi  Ilahi.  Amin.

Leave a Reply