Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

BERUBAH DARI MENTAL MISKIN

Ringkasan Khotah Ibu Ezra Manurung IR II, Minggu, 10 Juni 2018.

 

Ketika kita lahir sebagai orang yang beragama Kristen karena orang tua kita Kristen, hal ini tidak menjadikan kita otomatis percaya kepada Yesus. Seringkali kita berpikir, “Jika memang Tuhan itu ada, kenapa kondisi kehidupan saya begini, kenapa saya lahir di dalam keluarga seperti ini, kenapa saya tidak lahir di tengah keluarga yang berkecukupan atau kaya?” Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang belum dijawab Tuhan sehingga membuat kita semakin tidak percaya. Di luar kita mengaku orang Kristen, tapi di dalam kita menyangkal Yesus dengan ketidakpercayaan kita pada-Nya. Sebenarnya, ketidakpercayaan kita merupakan salah satu ‘mental miskin’ yang tidak kita sadari. Ketika mental itu sudah ada di dalam kita, maka kita akan cepat berespon tidak benar terhadap sesuatu yang terjadi. Kita bisa cepat marah, mengeluarkan kata-kata kotor dan bahkan salah dalam bertindak.

Ketika kita memiliki ‘mental miskin’, hal yang pertama muncul di dalam benak kita adalah ‘meminta’, kemudian meningkat menjadi orang yang suka ‘meminjam’. Jika berlanjut akan meningkat menjadi ‘mencuri’ dan lama kelamaan bisa lebih berbahaya yaitu menjadi pembunuh dan perampok.

Sebenarnya, kemiskinan bukan tentang apa yang ada di luar dan apa yang ada di sekitar kita, namun kemiskinan bisa terjadi dari apa yang ada di dalam kita. Contohnya, apabila kita menemukan suatu masalah dan kita tidak mau menghadapi masalah tersebut, itulah kemiskinan yang ada di dalam kita. ‘Mental miskin’ membuat kita tidak akan pernah merasa cukup, berapapun gaji kita, atau sekaya apapun kita. Apabila kita masih ada dalam mental seperti itu, kita tidak akan pernah merasa cukup.

Ketika tekanan atau masalah kehidupan datang, kemudian kita marah dan mempersalahkan orang lain, keadaan kita tidak akan berubah. Mental kita yang terus ingin marah terhadap keadaan, tidak akan mengubah apapun. Yang dapat mengubah  keadaan kita adalah jika Roh Kudus masuk dan diam di dalam kita sehingga mengubah cara pandang dan pola pikir kita yang miskin itu. Apabila pikiran Kristus masuk ke dalam pikiran kita, maka dengan sendirinya kita akan sadar dan berubah dari dalam, sehingga kita tidak terus-menerus menyalahkan orang lain atau menyalahkan keadaan kita.

Ketika Roh kudus berdiam di dalam kita, maka Dia juga yang akan membebaskan kita dari  ‘mental miskin’ itu.

Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Seringkali waktu kita membaca firman, kita tidak begitu mengerti tentang apa yang firman Tuhan maksudkan. Tetapi apabila kita tenang dan biarkan Roh Kudus berbicara, maka kita akan mulai memahami apa yang firman Tuhan katakan. Dalam perjalanan kekristenan kita seringkali pikiran  dan  hati kita bertolak belakang. Sekalipun hati kita sudah dipenuhi Roh Kudus, tetapi pikiran kita masih dipenuhi dengan ‘mental miskin’. Pada saat kita lahir baru, kita sudah perfect, powerful, dan tidak kekurangan suatu apapun yang baik, tetapi pikiran kita yang lama masih melekat pada kita.

 

Dari mana pikiran-pikiran itu berasal?

Semua yang ada dalam pikiran kita berasal dari masa lalu kita yang kita rekam dengan indra kita, yaitu; mata, telinga, mulut, tangan dan bahkan termasuk perasaan kita. Semuanya itu masuk dalam bentuk data dan gambar. Hal-hal yang masuk dalam pikiran kita sebelum kita lahir baru dan yang bertentangan dengan firman Tuhan adalah ‘penipuan’. Tanpa kita sadari kita telah banyak ditipu selama kita tidak mengetahui kebenaran firman Tuhan. Kita menyembah Tuhan, tetapi disaat yang bersamaan juga kita membiarkan hal-hal yang tidak benar masuk di dalam kita. Itulah alasan bahwa kita benar-benar butuh Roh Kudus untuk membebaskan kita dari pikiran lama kita. Penebusan Yesus bukan hanya dapat melepaskan dan membebaskan kita dari belenggu dosa, tetapi juga melepaskan kita dari ketidakmampuan untuk hidup benar di hadapan Dia.

Sekalipun kita sudah bertobat dan lahir baru, tetapi jika kita masih memakai jubah yang lama, kemungkinan besar kita masih akan salah dalam bertindak. Hati dan pikiran harus bisa selaras karena dari situlah kita akan menjadi powerful.

Iman datang karena ada ‘kesepakatan’ antara ‘pikiran’ dan ‘hati’ kita. Ketika kita hanya menginginkan sesuatu tanpa bertanya kepada Tuhan, maka kita tidak akan menjadi maksimal dalam hal tersebut. Yang ada kita hanya menjadi orang yang salah di tempat yang salah. Sekalipun itu terjadi, hal itu tidak akan membuat Tuhan berhenti mengasihi kita. Dia akan tetap mengingatkan kita tentang betapa berharganya kita di mata-Nya. Tugas kita ialah tetap merenungkan dan memperkatakan kebenaran firman Tuhan dari hari ke hari.  Kita harus punya pemahaman yang benar bahwa kemiskinan bukan hanya tentang hal-hal material, tetapi juga tentang prinsip-prinsip hidup di dalam kita sendiri. “Keadaan bukanlah kebenaran”, sehingga kita butuh Roh Kudus  untuk selalu mengingatkan kita bahwa apa yang ada di luar, tidak dapat mengontrol apa yang ada di dalam kita. Memperkatakan firman Tuhan adalah cara agar kita dapat selalu mengingat janji Tuhan, bahwa Dia adalah Tuhan yang setia dan adil.

Jadi untuk kita berubah dari orang yang memiliki ‘mental miskin’ menjadi orang yang memiliki ‘mental kaya’ (pemenang); Pertama, kita harus sadar bahwa kita perlu intervensi Yesus di dalam hati kita. Kedua, kita harus selalu memperkatakan firman Tuhan atas hidup kita. Ketiga, kita harus mendengar tuntunan Roh kudus untuk apa yang kita mau capai ke depan.  A m i n .

Leave a Reply