Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

BERSAMA SAMPAI AKHIR

Ringkasan khotbah Pdt. Ruland Letedara, IR II Minggu, 03 Juni 2018.

 

Kejadian 2:24-25 TB

Orang sering berkata bahwa pernikahan adalah keputusan terpenting kedua setelah menerima keselamatan. Pernikahan merupakan ‘institusi’ paling tua sejak adanya manusia, dan banyak pernikahan yang kandas atau bubar karena adanya individu yang tidak mampu bertahan sampai akhir. Pernikahan Kristen tidak berbicara tentang bagaimana kita memulai, tapi bagaimana  kita mempertahankannya sampai akhir. Dalam sisi yang berbeda, pernikahan dapat dilihat sama dengan perjalanan iman kita, yaitu tentang bagaimana kita memulai dan mampu bertahan sampai akhir.

 

Bagaimanakah kita bisa berjalan sampai akhir dalam pernikahan?

1)            Kita perlu memahami esensi dari pernikahan.

Esensi I: Pernikahan adalah hubungan perjanjian yang mengikat dua orang yang melakukan perjanjian tersebut. Terdapat berbagai hubungan misalnya hubungan antara konsumen dan penjual, yakni hubungan yang akan bertahan selama penjual memenuhi kebutuhan konsumen dengan harga yang sesuai. Konsumen tersebut tidak memiliki tanggung jawab atau obligasi untuk tetap membeli dari penjual tersebut apabila ada penjual lain yang dapat memberi keuntungan yang lebih. Jadi dalam hubungan ini, dapat dikatakan bahwa kebutuhan individu lebih penting daripada hubungan itu sendiri. Apabila dibandingkan dengan hubungan pernikahan, hubungan pernikahan merupakan hubungan perjanjian yang mengikat dimana kebaikan hubungan lebih penting daripada kebutuhan individu. Hubungan perjanjian pernikahan bersifat vertikal dan horizontal. Vertikal dilakukan antara Allah dan manusia, sedangkan horizontal dilakukan antara sesama manusia.

Efesus 5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Ayat ini rasul Paulus sedang mengutip kembali Kejadian 2:24.

Kejadian 2:24 Dalam terjemahan KJV menggunakan kata cleave yang menyampaikan kekuatan dari terjemahan bahasa Ibrani, yaitu kata ‘bersatu.’ Arti sebenarnya dari kata cleave  adalah to glue to something atau dilengketkan kepada sesuatu.  Ini merupakan esensi dari  kata perjanjian.

Hubungan pernikahan disebut hubungan perjanjian karena adanya dua aspek baik vertikal maupun horizontal, sehingga janji pernikahan disampaikan dihadapan Allah maupun keluarga dan jemaat. Dengan demikian, janji pernikahan bukanlah merupakan deklarasi cinta pada saat itu, tetapi merupakan janji kebersamaan untuk selama-lamanya.

Esensi II: Mengambil keputusan untuk tetap mengasihi karena mengasihi adalah keputusan.

Efesus 5:28 Ayat ini merupakan pengulangan dari ayat 25 pada pasal tersebut. Dalam membaca Firman Tuhan, pengulangan suatu hal menandakan pentingnya hal tersebut. Ayat 28 menekankan pada tanggung jawab, dimana terdapat perintah kepada suami untuk mengasihi istrinya. Hal ini dikarenakan emosi tidak dapat diperintahkan, tetapi tindakan  dapat diperintahkan. Cinta atau kasih bukanlah suatu emosi atau perasaan, sehingga dalam ayat tersebut Rasul Paulus memberi perintah untuk mengasihi istri terlepas dari perasaan.

Apakah dengan demikian cinta tidak dibutuhkan dalam pernikahan? Tentu saja tidak, yang dimaksudkan adalah perasaan cinta sedahsyat apapun bisa saja kandas seiring perjalanan, sebab itu kita perlu mengambil keputusan. Hal ini tentu bukan hal yang mudah. Saat kita memutuskan untuk mengasihi pasangan kita, kita sedang mengambil tindakan untuk tunduk atau taat pada Firman Tuhan dan perjanjian yang diikrarkan. Oleh sebab itu, kasih bukanlah ‘perasaan’ melainkan ‘keputusan’ untuk mengasihi dan menerima apa adanya.

Esensi  III:  Pasangan nikah adalah prioritas.

Jika yang menjadi fokus kita terhadap pasangan  hanyalah tentang sex atau uang, maka kita bisa saja mendapati atau mengejarnya di luar pernikahan. Karena tidak selamanya hal-hal tersebut dapat ditemukan dalam pernikahan. Hal-hal lain yang dapat berdampak adalah anak-anak, orang tua, karir, aktivitas sosial dan politik, hobi, hubungan teman dekat, dsb.  Apabila salah satu atau beberapa dari hal-hal ini menguasai imajinasi kita, atau memberikan kita kepuasan dan kesenangan, serta membuat kita merasa bermakna, maka energi dan emosi kita akan tersedot pada hal-hal tersebut melebihi pernikahan kita. Hal ini dapat mematikan pernikahan secara perlahan-lahan, karena salah satu dari pasangan akan merasa bahwa dia bukan lagi  prioritas bagi pasangannya. Kekeliruan dapat terjadi saat kehadiran anak dalam pernikahan karena seorang anak dapat menyita perhatian dan fokus dari pasangan yang dapat mengabaikan hubungan antara suami dan istri. Secara tidak sadar, kita lebih fokus kepada anak kita tanpa mengerti bahwa prioritas utama adalah pasangan kita. Kita perlu ingat bahwa pada mulanya, yang ditempatkan Allah di taman Eden adalah suami dan istri.

2)            Kita perlu belajar untuk memahami kebutuhan pasangan kita.

Menurut John Grey di dalam bukunya; Wanita atau istri membutuhkan perhatian dan pria atau suami membutuhkan kepercayaan. Pada saat pria atau suami memperlihatkan minat pada perasaan istrinya, dan menunjukkan kepedulian yang dalam terhadap kesejahteraan istri, wanita tersebut akan merasa dicintai dan diperhatikan. Sebaliknya, apabila wanita menunjukkan sikap terbuka dan mudah menerima terhadap pria, pria itu akan merasa dipercaya.

Wanita membutuhkan perhatian, sedangkan pria membutuhkan penerimaan. Apabila pria mendengarkan tanpa menghakimi melainkan dengan empati terhadap istri yang sedang mengungkapkan perasaannya, maka wanita atau istri akan merasa didengarkan dan dipahami. Apabila wanita dengan pengertian cinta menerima pria dengan tidak berusaha untuk mengubahnya, pria tersebut akan merasa diterima.

Wanita membutuhkan rasa hormat, sedangkan pria membutuhkan penghargaan. Wanita merasa dihormati apabila pria menanggapinya dan mengakui serta mengutamakan harapan dan hak wanita atau istrinya. Apabila tingkah laku pria mempertimbangkan pikiran dan perasaan dari wanita, maka wanita tersebut pasti akan merasa dihormati. Sebaliknya, apabila wanita mengakui dan menerima manfaat dan nilai pribadi dari usaha-usaha dan tingkah laku yang dilakukan oleh pria, maka pria tersebut akan merasa dihargai. Penghargaan merupakan reaksi alami terhadap perasaan yang didukung.

Wanita membutuhkan kesetiaan, sedangkan pria membutuhkan kekaguman. Bila pria mengutamakan kebutuhan wanita dan dengan bangga mendukung dan memuaskan wanita tersebut, maka kebutuhan cinta wanita tersebut akan terpuaskan. Wanita akan berkembang subur apabila ia merasa dipuja dan merasa istimewa. Akan tetapi, pria pun perlu merasakan kekaguman dari wanita. Pria merasa dikagumi jika wanita gembira dan takjub akan sifat-sifatnya yang khas atau bakat-bakatnya yang mungkin  mencakup rasa humor, kepercayaan, ketekunan, kejujuran, kemesraan, dan sebagainya.

Wanita perlu jaminan, sedangkan pria perlu dorongan. Bila pria, secara berulang-kali, memperlihatkan bahwa ia memperhatikan, memahami, menghormati, menghargai, dan menyayangi pasangannya, maka kebutuhan utama dari wanita atau istri untuk diyakinkan telah terpenuhi. Sedangkan wanita perlu membesarkan hati terhadap pria, karena dapat memberikan harapan dan keberanian kepada pria khususnya untuk memberikan jaminan kepada wanita tersebut.

John Grey juga menganalogikan pria sebagai seorang yang berasal dari planet Mars, dan wanita sebagai seorang yang berasal dari planet Venus. Maksudnya adalah penduduk dari dua planet berbeda yang mencoba untuk bersatu. Penduduk Mars atau para pria cenderung meraih kekuasaan,  keterampilan, dan prestasi. Hal ini berarti bahwa harga diri para pria ditentukan dari kemampuan dalam mencapai hasil. Selain itu, penduduk Mars cenderung ingin melakukan sesuatu sendiri atau tidak meminta pertolongan hingga benar-benar membutuhkan. Penduduk Venus atau para wanita cenderung menawarkan pertolongan.

Dalam hubungan suami-istri, istri cenderung suka menawarkan pertolongan secara tulus, akan tetapi hal ini bisa saja membuat suami menjadi tersinggung. Sering dalam pernikahan, ide untuk bertemu dengan konselor pernikahan datang dari istri. Sebaliknya, pria cenderung ingin memberikan solusi. Terkadang suami salah dalam menginterpretasikan maksud istri, dimana para suami merasa bahwa ia adalah orang tidak mampu di mata istrinya.  Sehubungan dengan sifat pria yang suka memberi solusi, perlu diingat bahwa tidak selamanya istri, dalam menyampaikan sesuatu, meminta solusi dari suaminya. Oleh sebab itu, para suami perlu belajar skill untuk mendengar. Sedangkan para istri perlu belajar untuk tidak berbicara atau memberikan suaminya waktu pada saat ia sedang mumet atau stress. Terkadang kita memiliki niat yang baik, tetapi tidak pada waktu yang tepat.

Kita perlu memahami perbedaan antara pria atau suami dengan wanita atau istri, khususnya dalam hal menghadapi masalah.

Dalam menghadapi masalah, pria cenderung menarik dirinya, bahkan dari wanita atau istrinya. Pada situasi seperti ini, seorang istri, yang cenderung tidak dapat didiami, dapat menjadi bingung karena ia terlibat secara emosional sehingga dapat disalah-artikan olehnya. Yang menjadi masalah adalah, saat suami selesai menarik diri, dan mencoba untuk kembali kepada istrinya, istri sudah terlanjur terluka.

Berbeda dengan pria atau suami, saat menghadapi masalah, istri cenderung membicarakannya. Ketika istri tidak dapat membicarakannya dengan suaminya, ia cenderung membicarakannya dengan teman-temannya. Oleh karena itu, kita perlu belajar untuk mengerti kebutuhan pasangan kita.

Perbedaan antara pria dan wanita adalah cara berkomunikasi atau bahasa. Wanita mengungkapkan perasaan, sedangkan pria mengungkapkan informasi. Walaupun kata yang digunakan adalah kata yang sama, belum tentu maksud yang diungkapkan adalah sama. Wanita cenderung menggunakan kiasan, metafora, perumpamaan, maupun generalisasi.

Pasangan kita adalah partner kita. Kita perlu menjaga komitmen kita sampai akhir dengan cara terus konsisten memberikan pengampunan. Selain itu kita perlu belajar menerima pasangan kita apa adanya bukan ada apanya.  A m i n .

Leave a Reply