Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Abraham


Ringkasan khotbah Pdt. Onna Tahapary
Minggu, 18 Desember 2016

Kejadian 22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”

Perhatikan kalimat di atas, “Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham.” Pertanyaannya, Setelah ‘semua’ yang mana? Jika kita baca ayat-ayat sebelumnya, kita akan menemukan beberapa cerita:

Pertama: Setelah Ishak lahir

Setelah Tuhan berjanji kepada Abraham untuk memberikan keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di pantai, Ishak tidak langsung lahir. Tapi Abraham menjalani proses menunggu yang sangat lama, kira-kira 25 tahun. Bayangkan jika anda yang terbiasa menghargai waktu; Proses menunggu itu sangat tidak nyaman.

Kedua: Hagar dan Ismael harus keluar dari rumah

Bagaimanapun juga Ismael adalah darah daging Abraham. Bagi orang Yahudi anak laki-laki itu ‘inti’. Menunggu Ishak lahir setelah 25 tahun memang berat, tapi merelakan seorang anak laki-laki harus diusir keluar dari rumah, jauh lebih berat.

Ketiga: Abimelek datang kepada Abraham

Kejadian 21:22-24

Kata sebenarnya yang dipakai adalah ‘Covenant’ (ikat janji).  Jika janji saja mungkin kita sering langgar, tapi kalau ‘ikat janji’ berarti tidak bisa dilanggar. Yang lebih berat adalah Abimelekh bukan saja minta Abraham tidak mencelakakan dirinya, tapi juga terhadap keturunannya.

Perhatikan bahwa Alkitab menggiring kita kepada realita; menunggu 25 tahun (sulit), Ismael harus keluar dari rumah (lebih sulit), ikat janji, pertahankan integritas untuk tidak boleh melanggar janji untuk Abimelekh dan seluruh keturunan Abimelekh (jauh lebih sulit).

Setelah itu Abraham memanggil Tuhan pakai namaNya. ‘Nama’ dalam bahasa Ibrani: ‘shêm’ yang artinya: Abraham menyebut reputasi, kehormatan, otoritas dan karakter Tuhan yang sudah terbaca dan diketahui. Jadi yang Alkitab jelaskan kepada kita adalah Abraham tahu reputasi, kehormatan otoritas Tuhan, dan karakter Tuhan. Sebab itu yang kita harus bangun dalam kerangka berpikir kita adalah semakin kita tahu siapa Tuhan, semakin berat kisah hidup yang kita jalani.

Yesus berkata: Setiap orang yang mau mengikut Aku; (1) ia harus menyangkal dirinya (itu berat), (2) memikul salibnya (lebih berat) dan (3) mengikut Aku, lebih tepatnya adalah ikuti cara Saya hidup, ikuti budaya Saya, ikuti prinsip Saya, ikuti nilai Saya. Tapi yang membedakan kita adalah reaksi kita lebih simpel.

Dari mana kita tahu bahwa kita kenal Tuhan atau kita belum kenal Tuhan? Jawabnya sederhana: Perhatikan reaksi kita. Waktu kita ada dalam cerita hidup, apakah reaksi kita semakin simpel atau reaksi kita semakin kompleks.

“…Allah mencoba Abraham.…” Kata ‘mencoba’ diambil dari kata nâsâh artinya ambil Abraham, taruh di tempat uji untuk mengetahui kadar kemurniannya seperti apa. Jika setan coba kita kepentingannya supaya kita jatuh. Jika Tuhan uji kita, kepentinganNya adalah mengetahui seberapa besar kadar kemurnian hati kita terhadap Tuhan. Sebab semakin besar kadar kemurnian dalam pengenalan akan Tuhan, maka harga kita akan lebih mahal. Jika harga lebih mahal, maka kita pasti naik level.

Setelah Abraham panggil Tuhan pakai ‘nama’, Tuhan mencobai Abraham.

Kejadian 22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, …

Selama ini pemahaman kita tentang anak tunggal adalah anak satu-satunya. Kata tunggal di sini berasal dari yâchı̂yd (Ibrani). yâchı̂yd artinya anak yang kita sudah cinta mati kepadanya, sangat terikat dan tidak mungkin dipisahkan.

“….persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran….”

Kata ‘persembahkanlah’ diambil dari kata ‛âlâh yang artinya; (1)remukan dia, (2)potong-potong dia dan (3)bakar dia. Jadi Ishak harus mati dahulu di atas mezbah, diremukan, dipotong-potong, kemudian dibakar.

Lihat reaksi simpel dari Abraham:

Kejadian 22:3

Perhatikan ayat di atas, bagaimana reaksi Abraham? Inilah reaksi simpel dari Abraham yaitu ‘Silent’ (diam, hening, bungkam). Yesaya juga menggambarkan reaksi Yesus yang simpel saat diserahkan untuk disalib (Yesaya  53:7).

Kejadian 22:4  Tuhan kasih Abraham waktu untuk berpikir selama tiga hari. Ini merupakan waktu panjang untuk berpikir ulang dan mempertanyakan Tuhan.  Juga waktu yang panjang untuk terjebak dalam asumsi tentang siapa Tuhan. Tapi yang terjadi adalah Abraham ‘diam’. Reaksi satu-satunya adalah mempersiapkan diri untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan.

Kejadian 22:5 “…, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Ini merupakan pernyataan kontra logika. Sebab dia tahu Ishak bakal dikorbankan.

Abraham tahu bahwa Ishak akan diremukan, dipotong dan dibakar. Jika berdasarkan logika seharusnya Abraham berkata: “…; kami akan sembahyang, sesudah itu saya kembali kepadamu.”  Semakin kita kenal Tuhan cerita hidup akan lebih berat, tapi reaksi kita akan lebih simpel. Mengapa Abraham dapat bereaksi simpel? Sebab Abraham telah mengetahui dengan benar siapa Tuhan.

Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, (Ibrani 11:17)

Kata ‘dicobai’ dalam PL menggunakan bahasa Ibrani ‘nâsâh’, tapi dalam PB menggunakan bahasa Yunani, ‘peirazō’ yang artinya; mau menguji saja atau mau tahu saja apa yang ada di dalam. Kedua Tuhan mau tahu bagaimana kita bereaksi.

Ibrani 11:19a, Kata berpikir di sini menggunakan kata Yunani yaitu ‘logizomai’ yang artinya setelah dia kumpulkan data (menginventaris), dia lakukan kalkulasi dan dia menemukan kesimpulan bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati.

Dalam kehidupan kita pasti ada banyak cerita bersama Tuhan. Pertanyaannya, dalam proses yang kita lewati, karakter, otoritas dan reputasi Tuhan terbuktikah atau tidak? Jika karakter, otoritas dan reputasi Tuhan kita ketahui, mulai kumpulkan data dan lihat bahwa Tuhan berkuasa.

Ibrani 11:19b Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Kata yang dipakai adalah  ‘parabolē’ artinya dia telah menerima secara simbolis. Jadi pada moment itu, Abraham telah menerima Ishak kembali secara simbolis, karena dia tahu siapa Tuhan.

Kejadian 22:6-9

Kata ‘menyediakan’ dalam Kejadian 22:8 di atas berasal dari kata rââh (Ibrani) yang artinya Tuhan sedang melihat. Dengan kata lain Abraham sedang berkata kepada Ishak, Pertama; “Tuhan sedang mengamati, lakukan saja.” Kedua; Apakah kita teruji atau tidak. Ketiga; Ketika kita didapati teruji, maka Tuhan akan menyediakan apa pun kebutuhan kita. Sebab itu dalam Ulangan 6:4-7 Tuhan suruh para orang tua di Israel untuk mengajarkan bagaimana mengasihi Tuhan.

Kenapa Ishak tidak melawan? Sebab setelah tiba di puncak gunung, yang Ishak tahu adalah lakukan saja, Tuhan sedang melihat. Tuhan hanya mau uji, adakah isi di dalam dirinya atau tidak. Jika kita tahu benar tentang reputasi dan karakter Tuhan, kita akan selalu terkonsep untuk menyelesaikan ceritanya atau prosesnya. Jangan berhenti di tengah jalan.

10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.  11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” 12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” (1) Jangan bunuh anak itu (2) jangan kauapa-apakan dia, (Kejadian 22:10-12)

Jadi dari awal Tuhan tidak bermaksud membunuh Ishak. Sesulit-sulitnya hidup kita, dalam cerita hidup ini Tuhan tidak pernah bermaksud membunuh kita.

‘Kuketahui’ dalam bahasa aslinya yâda artinya; setelah saya amat-amati saya simpulkan bahwa kamu beda.

Pertanyaannya dalam semua cerita yang kita jalani, “Apakah kita berbeda atau tidak?” Atau kita hanya jadi orang Kristen rata-rata. Yang lain bersungut, kita pun bersungut. Yang lain menista Tuhan, kita pun melakukan hal yang sama.

Orang yang tahu benar siapa Tuhan, orang yang melihat realita Tuhan (Otoritas, karakter dan reputasi Tuhan), mereka pasti berbeda. Perbedaannya adalah sekalipun tekanan hidup berat, mereka selalu bereaksi simpel. Tuhan melihat Abraham bahwa Abraham (1) takut akan Tuhan (2) tidak segan-segan menyerahkan anak yang tunggal. Takut Tuhan di sini bukan takut karena akan dihukum. Takut Tuhan di sini artinya; sangat menghormati Tuhan sampai segan terhadap Tuhan.  Abraham segan terhadap Tuhan, tapi Abraham tidak segan menyerahkan anaknya.

Jika kita benar-benar kenal Tuhan, Pertama; kita punya reaksi simpel. Kedua; kita melihat Tuhan sangat terhormat, sampai kita segan untuk membantah Tuhan. Ketiga; Setiap kali Tuhan bicara, kita ikut dan tidak berbantah. Itulah perbedaan. Pertanyakan dan renungkan ini untuk diri sendiri, waktu kita sedang jalani cerita hidup: Apakah reaksi saya berbeda atau sama dengan kebanyakan orang? Apakah di dalam saya ada isi atau seperti tong kosong yang nyaring bunyinya? Makanya suka berteriak dan mengeluh ketika masalah datang. Semua yang punya isi, tidak akan banyak bicara, silent dalam ketaatan.  Amin .

Leave a Reply