Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Murah Hati

jose-hanna
Ringkasan khotbah Ps. Jose Carol
Minggu, 06 November 2016

Good Country Index 2016, sebuah survey yang mengukur kontribusi berbagai negara terhadap kesejahteraan dunia telah diterbitkan. Negara yang mampu menyejahterakan masyarakatnya tanpa mengusik kepentingan negara lain adalah negara yang dinilai ‘Good’. Dari 163 negara yang masuk ke dalam survey ini, Indonesia berada di posisi ke 83. Survey ini  mengatakan bahwa kontribusi Indonesia terhadap ilmu pengetahuan dan peradaban dunia sangat rendah. Untuk variabel sains dan teknologi, budaya, serta iklim dan lingkungan, Indonesia mendapatkan peringkat yang buruk yakni 160, 131, dan 138 secara berurutan.

Dari hasil ini ditemukan alasannya bahwa mentalitas bangsa kita telah rusak. Penelitian juga mengatakan bahwa indeks baik sebuah bangsa berbanding terbalik dengan indeks korupsi bangsa tersebut. Mereka menunjukkan 20 negara terbaik di dunia adalah negara dengan persepsi korupsi paling rendah. Sebaliknya negara-negara yang indeks baiknya paling rendah adalah negara-negara yang persepsi korupsinya paling tinggi, terutama di bidang ilmu pengetahuan. Sebuah artikel di Kompas mengatakan bahwa korupsi sudah masuk ke dalam dunia pendidikan kita; sejak melamar orang korupsi, sejak masuk ujian orang korupsi, selama kuliah mahasiswanya korupsi, dosennya korupsi. Pada saat ujian korupsi juga terjadi, pada saat skripsi korupsi terjadi. Mentalitas  itu sudah masuk sedemikian rupa, sehingga banyak orang yang pintar tapi kontribusinya tidak berarti.

Tuhan menciptakan kita dalam rupa dan citra diriNya. Bukan hanya rupa kita seperti Tuhan, tapi citra kita seperti Tuhan. Jika kita disodorkan beberapa merek dagang, citra apa yang muncul dalam benak kita? Misalnya: ‘Mercedes-Benz’, citra yang muncul adalah mahal, teknologi, kemajuan, Jerman, kenyamanan. Jika yang muncul ‘Ferarri’, maka citra yang muncul adalah cepat, mahal, boros. Jika dunia di sekitar melihat kita, kira-kira citra apa yang muncul di dalam benak mereka. Apakah mereka melihat citra yang baik sebagaimana Tuhan yang baikkah?  Apakah mereka melihat kita murah hati sebagaimana Tuhan yang murah hati?  Apakah mereka melihat kita pemaaf sebagaimana Tuhan kita yang selalu pemaaf dan pengasih?

Apakah mereka melihat keteraturan sebagaimana Tuhan kita yang teratur? Apakah mereka melihat kedahsyatan dan kemuliaan sebagaimana Tuhan juga dahsyat dan mulia?  Pertanyaan penting bagi kita adalah “Citra apakah yang akan kita tampilkan kepada dunia yang ada di sekitar kita?”

Tuhan yang menciptakan kita adalah Tuhan yang dahsyat dan Dia ingin mencitrakan diriNya melalui kita umat manusia, tapi dosa menghancurkan segala sesuatunya. Itu sebabnya salah satu citra di dalam diriNya adalah ‘Murah Hati’. Allah kita adalah Allah yang murah hati dan Dia tidak pernah pelit. Mungkin ada di antara kita yang bergumul dengan kebutuhan-kebutuhan, ketahuilah bahwa Dia tidak penah meninggalkan kita. Berpikirlah tentang kemurahan hati Tuhan, karena Tuhan ingin kita juga murah hati. Jika kebenaran itu datang memerdekakan kita, maka kemungkinan besar hal ini juga menjadi kebenaran untuk mengubah lingkungan di sekitar kita bahkan kota dimana kita ada.

Sebagai orang tua, pikirkan bahwa anak-anak seperti apa yang saudara mau besarkan dan bagaimana saudara membesarkannya, sehingga mereka bisa hidup mempunyai dampak yang lebih besar dibanding saudara. Sebab cara kita membesarkan, membimbing mereka dan mengajar mereka akan menentukan seperti apa mereka di kemudian hari. Khususnya dalam konteks murah hati sebagai orang tua, kita mau anak kita berhasil dalam kehidupan dan berdampak dalam karir. Apakah kita mau membesarkan anak yang pelit, atau anak yang murah hati?

Dunia memiliki prinsip; hemat pangkal kaya. Artinya kalau saya ingin anak saya kaya, saya harus mengajar dia bagaimana cara menghemat. Tuhan ingin kita menjadi agen perubahan. Tuhan ingin kita mencitrakan diriNya yang murah hati, yang mulia dan luar biasa. Sebab itu Dia ingin kita hidup murah hati bukan hidup pelit dan picik hanya mementingkan diri sendiri.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

Tuhan hendak mengajak kita untuk melakukan segala sesuatu dengan mentalias Kerajaan Allah, supaya hidup kita makin hari makin diperbesar.

Tuhan juga mau memperbesar kota kita, bahkan Tuhan mau memperbesar bangsa kita. Tuhan mau memperbesar dampak generasi ini bagi kota dan bangsa kita. Sebab itu yang Tuhan mau ajarkan adalah “Jangan picik, hiduplah dengan murah hati.” Tuhan mengajarkan kita untuk murah hati adalah karena Tuhan ingin hidup kita diperbesar.

Ada tiga alasan mengapa Tuhan ajarkan kita murah hati:

1. Jangan menghemat

2 Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! 3 Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi. (Yesaya 54:2-3)

Kita mau rumah kita tambah besar, tabungan kita tambah besar, bisnis kita tambah besar, kita ingin karir kita tambah besar dll. Karena itu firman Tuhan berkata “jangan menghemat;..…” Hemat bukanlah filosofi yang baik untuk kita jadi lebih besar. Hemat di sini bukan berarti boros. Banyak orang hidup pelit tapi penuh dengan kekurangan. Jika kita hendak melapangkan tempat kemah kita, berarti kita tidak bisa berjalan dengan pikiran picik dan pelit. Menghemat bukanlah konsep Tuhan.

Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. (Amsal 11:24)

“The world of the generous gets larger and larger; ….” (The Message) (Dunia orang yang murah hati bertambah besar dan bertambah besar; …)

Amsal 11:25  Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, ….. Artinya memberi dahulu baru kelimpahan datang, bukan sebaliknya kelimpahan dahulu baru memberi. Banyak orang beralasan “Bagaimana mau memberi, makan saja tidak cukup,..! Bagaimana saya mau memberi perhatian, sementara saya sendiri kurang perhatian! Bagaimana saya mau mendoakan kamu, sedangkan saya sendiri kurang didoakan! Bagaimana saya mengunjungi kamu, sedangkan saya sendiri jarang dikunjungi ketua KM!” Kita selalu berbicara memberi kalau kita punya kelimpahan. Sehingga kita tunggu kelimpahan datang lebih dahulu baru kita memberi. Alkitab berkata siapa banyak memberi akan mengalami kelimpahan. Jadi memberi datang terlebih dahulu baru kelimpahan datang kemudian.

2. Tuhan ingin menambahkan benih bagi kita

Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; (2 Korintus 9:10)

Yang membedakan benih dan roti di tangan kita adalah ketika kita hanya mementingkan diri sendiri, maka semua yang di tangan kita akan menjadi roti.

Bangsa kita adalah bangsa yang kaya. Negara kita sebenarnya tidak kekurangan sesuatu apapun. Masalahnya kita membutuhkan orang-orang yang rela melepaskan sesuatu di tangannya sebagai benih dan tidak hanya ingin memuaskan kepentingan diri sendiri.

3. Tuhan menghendaki kita bahagia

Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35)

Tahukah saudara bahwa kebahagiaan datang bukan karena kita mempunyai segala sesuatu? Ada banyak orang yang memiliki banyak harta tapi hidupnya tidak bahagia.

Kita harus memiliki pola pikir dan mental yang kaya, sehingga sekalipun ada banyak keterbatasan, tapi dengan Tuhan kita dapat menikmati kebahagiaan. Amin.

Leave a Reply