Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Membangun Dasar

Ringkasan khotbah Pdt. Chris M. Manusama
Minggu, 13 November 2016

Untuk perjalanan hidup ini ada banyak harga yang harus kita bayar. Waktu kita di luar Tuhan, kita mungkin bisa sukses, tapi kesuksesan kita tidak relevant dengan tujuan Tuhan. Sebab itu jika iman hanya dipakai untuk fasilitas, iman hanya dipakai untuk materi, maka kita sedang merendahkan Tuhan.

Waktu Yesus menebus kita, itu membuat kita memiliki benih. Benih ini menentukan segala-galanya buat kita. Alkitab berkata itulah benih Abraham. Abraham adalah tokoh yang paling penting bagi kita.

Siapa Abraham?

Abraham bukan orang Israel, tapi Israel lahir dari Abraham. Dia berasal dari tanah Ur. Kitab Yosua berkata, Abraham adalah penyembah berhala. Mata pencahariannya adalah berhala. Sekalipun demikian Tuhan tetap berinisiatif untuk mencari Abraham. Panggilan ini bukanlah panggilan untuk bertobat, tapi panggilan untuk Abraham diubahkan, diisi dan dilengkapi, baru kemudian olehnya semua bangsa mendapat berkat.

1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. (Kejadian 12:1-2)

Penting untuk setiap kita menemukan panggilan seperti ini. Jadi Kristen tanpa  pengalaman jumpa dengan Tuhan, maka kita sedang gagal jadi Kristen. Tapi kemudian ada masalah dengan Abraham, dimana Tuhan memanggil dia sendirian, namun dia mengajak Lot untuk ikut denganya. Padahal Tuhan tidak suruh. Seringkali Tuhan mau berkati kita sendirian, tapi kita ajak orang lain. Seringkai kita berbisnis dengan orang tanpa bertanya kepada Tuhan. Kita sudah lakukan baru kita tanya Tuhan. Itulah sebabnya kita kacau dalam banyak hal.

Setelah 24 tahun kita ada di kota ini, “Sudahkah kita temukan bahwa Tuhan panggil kita? Sudahkah kita temukan bahwa Tuhan curahkan  isi hatiNya? Apa yang Dia mau dari hidup kita?”  Kejar hal itu!

13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”  14 Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu. (Galatia 3:13-14)

Ketika Abraham berjalan ke tanah Negeb, begitu banyaknya kekayaannya yang dia peroleh, sampai tempat itu tidak dapat menampung kekayaan Abraham dan Lot (Kejadian 13:1-6). Dalam ‘Journey of Life’ ada hal-hal yang harus kita pilih (ambil keputusan), di saat inilah kita butuh Tuhan. Seringkali kita pakai pengalaman kita atau ketrampilan kita untuk mengambil keputusan. Tapi di sini Abraham belajar bagaimana mempercayai Tuhan, sehingga dia memberi kesempatan untuk Lot memilih lebih dahulu (Kejadian 13:9-12).

‘Uang sekolah’ yang mahal membuat kita tidak bergantung kepada indra kita. Iman bukan intelektual, iman tidak anti intelektual, iman lebih tinggi dari intelektual. Iman itu kontralogika, yaitu bukti dari apa yang tidak kita lihat.

Lot pilih yang terbaik dan Abraham mendapatkan padang gurun. Tapi pada akhirnya Lot kehilangan semua hartanya akibat perang dan dia menjadi tawanan raja-raja di sekitar Yordan. Sementara Abraham yang tadinya di padang gurun semakin diberkati. Bahkan bukan hanya diberkati, tapi dia juga menerima seluruh penggenapan janji Tuhan. Mari kita belajar dari Abraham yang selalu melekat pada hadirat Tuhan. Abraham memakai iman untuk mentaati perintah Tuhan secara total.

‘Ketaatan’ berasal dari kata ‘hupakouo’ artinya ‘menundukkan diri’. Jadi ‘ketaatan’ adalah penyembahan (worship). Dengan kata lain ekspresi tertinggi dari penyembahan adalah ‘ketaatan’. Inilah fondasi yang harus kita perkuat. Iman dipakai untuk mentaati secara total terhadap perintah Tuhan. Dari situlah baru kita bisa punya hati seperti Tuhan melihat manusia.

Dua ribu tujuh ratus tahun yang lalu, seorang nabi besar bernama Yesaya bernubuat untuk pulau-pulau. Ketika kita melihat peta dunia dibentangkan, ditengahnya Tuhan hamparkan 17.000 pulau. Itulah Indonesia.

Yesaya 42:10-13

10 Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya.

‘Nyanyian baru’ bukan berarti kita membuat lagu baru setiap hari, tapi waktu hubungan kita dengan Tuhan berlangsung dengan baik, maka suasana hati kita selalu baru setiap hari.

11 Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung!

Kedar adalah anak kedua dari Ismael. Bukankah populasi Kedar di Indonesia adalah yang terbesar di dunia?

12 Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.

13 TUHAN keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangat-Nya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuh-Nya Ia membuktikan kepahlawanan-Nya.

Ini adalah respons Tuhan terhadap apa yang kita lakukan kepadaNya. Kenapa Tuhan belum membuktikan kepahlawananNya? Sebab kita belum melakukan apa yang Dia mau.

Hari ini keadaan dunia seperti apa?

1 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. 2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, 3 tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, 4 suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. 5 Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! (2 Timotius 3:1-5)

Kita sedang hidup dalam satu kondisi yang begitu berbahaya, sampai-sampai orang tidak akan selamat jika bukan karena Tuhan.

Sekarang kita mau ke mana?

7 Semua bangsa akan Kugemparkan dan harta benda mereka akan dibawa ke mari, sehingga Rumah-Ku akan penuh dengan kekayaan mereka. 8 Segala emas dan perak di dunia ini adalah milik-Ku. 9 Rumah-Ku yang baru akan lebih megah daripada yang dahulu, dan di sini Aku akan memberikan damai dan kemakmuran kepada bangsa-Ku.” TUHAN Yang Mahakuasa telah berbicara. (Hagai 2:7-9)

Tapi ini semua belum digenapi karena ada musuh yang menghalangi nubuatan-nubuatan ini. Nama musuhnya adalah ‘Mamon’. Dunia berubah karena kekerasan, teknologi, mamon, agama, dan politik.

Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Matius 6:24)

Mamon berasal dari kata ‘Mamonas’, yaitu pribadi yang menyaingi Tuhan. Jadi bukan uang yang menjadi persoalan, tapi spirit dibalik uang itu. Mamon punya prajurit, namanya tamak, serakah, tidak pernah puas, kikir, pelit, iri hati, mengandalkan uang, dsb. Mereka ada di tempat tidur kita, di meja kerja kita, mereka ada di sekitar kita. Apa yang kita hayati tentang Tuhan akan menentukan kekuatan kita.

Menyembah bukan pada titik agamawi, tapi menyembah pada titik kesadaran. Waktu saudara melangkah ke rumah Allah, pertanyaannya; atas dasar perintah atau kerinduan? Kewajiban atau kerinduan?

Apa bedanya ‘anak’ dan ‘budak’? Jika kita hidup jauh dari Bapa Sorgawi, kita rentan terhadap kebangkrutan. Waktu Tuhan menjadi nomor dua dalam hidup kita, maka kita menjadi budak. Persahabatan kita beli, pergaulan kita beli, hubungan-hubungan kita beli, itu semua imitasi. Gereja sekarang menjadi pantulan kebutuhan manusia, bukan pantulan kemuliaan Bapa. Hendaklah ini menjadi target kita, dimana kita menjadi gereja yang memantulkan dan mewujudnyatakan kemuliaan Bapa. ‘Budak’ selalu bertanya, “Aku dapat apa?” Kalau ‘anak’, “Apa yang bisa saya kasih?” Selama kita tidak cukup dengan Bapa, maka kita adalah budak.

Tujuan keselamatan bukan untuk masuk Sorga, tapi tujuan keselamatan adalah supaya kita menjadi serupa dengan Kristus. Sebab itu mari temukan kehendak Tuhan. Jika sudah, libatkan dirimu dalam kehendak Tuhan. Jika sudah, selesaikan kehendak Tuhan. Isu hidup, bukan apa yang kita miliki, tapi di tangan siapa kita hidup.  Amin.

Leave a Reply