Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Berketetapan

joji-pakaila
Ringkasan khotbah Pdm. Joji Pakaila
Minggu, 09 Oktober 2016

Setiap kali kita membaca kitab perjanjian lama, kita harus baca dengan kaca mata perjanjian baru. Apa yang Yesus ajarkan adalah dasar dari seluruh kehidupan kekristenan kita. Jika kita membaca kitab perjanjian lama tanpa Yesus, maka kita bisa tersesat. Yesus tidak membatalkan perjanjian lama, tapi Yesus datang untuk menggenapinya. Sebab itu di dalam Yesus kita menemukan solusi. Sesulit apapun persoalan yang kita hadapi, di dalam Yesus ada mujizat dan ada jawaban. Baca Daniel 1:1-7

Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; (Amsal 4:20)

Kenapa kita perlu memperhatikan baik-baik? Karena saat kita memperhatikan, saat itulah Tuhan berbicara. Kita selalu melihat kebesaran dan kehebatan Daniel dan ketiga temannya di tanah Kasdim. Tapi kita perlu melihat proses dibalik kebesaran Daniel dan teman-temannya. Mereka adalah orang-orang yang terbelenggu. Mereka termasuk orang-orang yang dirampas dan ditarik keluar dari Isarel dan ditawan di Babel. Empat orang ini dijadikan Sida-sida (Pelayan di Istana) oleh raja Babel dan mereka dikebiri. Dalam budaya Israel, jika seseorang dikebiri, maka dia tidak dapat kembali masuk ke dalam bangsanya, karena dianggap najis oleh bangsa itu. Sebab itu Daniel tidak pernah kembali lagi ke Israel dan Daniel tetap dipakai oleh Tuhan di tanah Kasdim. Apa penyebab mereka terbelenggu?

Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya. (Daniel 1:2)

Ketika itu jika satu bangsa mengalahkan bangsa yang lain, maka Allah bangsa yang kalah itu pun akan ditawan. Hal ini sebagai satu bentuk ejekan kepada bangsa yang kalah. Jadi dalam konteks ini Nebukadnezar sedang mengejek bangsa Israel.

5 Yoyakim berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan sebelas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahnya. 6 Nebukadnezar, raja Babel, maju melawan dia, membelenggunya dengan rantai tembaga untuk membawanya ke Babel. (2 Tawarikh 36:5-6)

Jadi akibat dari pemimpin yang bersalah, maka seluruh bangsa menanggung akibatnya. Bahkan nama Tuhan disepelekan. Israel adalah bangsa yang hidup ditentukan oleh ibadahnya. Jika ibadahnya rusak, maka bangsa ini akan hancur. Tuhan serius dengan ‘kepemimpinan’. Kepemimpinan terkecil dimulai dari pribadi (memimpin diri sendiri). Ketika kita dapat memimpin diri sendiri, maka kita dapat memimpin keluarga. Ketika kita dapat memimpin keluarga berarti kita dapat memimpin yang lebih besar sampai kepada memimpin kota atau bangsa. Pemimpin yang takut akan Tuhan, rakyatnya sejahtera. Orang tua yang takut akan Tuhan, anak cucunya diberkati dan perkasa di bumi. Orang muda yang takut akan Tuhan membuat harum nama keluarganya. Tuhan selalu berurusan dengan orang yang mengikat perjanjian denganNya. Sebab itulah kita dapat berdoa, bernegosiasi dengan Tuhan. Seburuk apa pun satu kota, jika ada anak Tuhan di situ, berarti masih ada harapan. Waktu ada orang benar di suatu tempat, tempat itu dapat berubah. Tuhan berjanji bahwa tanah kering, padang gurun, Tuhan dapat mengubahnya menjadi padang yang berumput hijau. Hal yang penting bagi kita adalah jangan dengar firman untuk orang lain. Tapi dengarlah untuk diri sendiri; “Apa yang sedang Tuhan mau dengan hidup saya, apa yang Tuhan mau saya lakukan?” Posisikan firman Tuhan untuk diri kita pribadi, bukan untuk orang lain.

3 Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, 4 karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. 5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, 6 dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna. (2 Korintus 10:3-6)

Jadi jika kita sendiri belum taat, jangan dengar firman untuk orang lain. Mari lihat firman Tuhan untuk diri sendiri. Kata ‘Angkuh’ artinya: sifat atau tabiat suka memandang rendah orang lain, tinggi hati, congkak, tidak mau diatur (KBBI). Kita yang paling tahu kapan kita sombong dan angkuh. Tuhan kasih kita kuasa untuk meruntuhkan keangkuhan itu. Mari praktekan dengan kesadaran yang disengaja. Setiap kali saudara mulai merasa dan melihat musuh menarik saudara untuk sombong, patahkan itu di dalam nama Yesus. Jangan sampai karena ego kita, kita memberikan tempat untuk iblis menanamkan kekuasaannya di dalam kita dan keluarga kita.

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. (Amsal 18:21)

Pertanyaannya, “Apa yang kamu perkatakan untuk hidupmu?” Apa yang terjadi dengan hidupmu, apakah saudara mau tetap memperkatakan keadaan? Ingat topik perenungan kita: Renungkan firman Tuhan, renungkan karya Tuhan dan renungkan karakter Tuhan. Jangan renungkan keadaan, tapi renungkan firman Tuhan. Jangan renungkan apa kata orang tentang dirimu, renungkan apa kata firman Tuhan tentang hidupmu. Sebab yang dapat menata hidup ini lebih baik, hanya kebenaran.

Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat. (Amsal 8:13)

Jadi perkatakan kepada diri sendiri, “Aku benci kesombongan dan kecongkakan, aku benci tingkah laku yang jahat, aku benci mulut yang penuh tipu muslihat.” Itulah takut akan Tuhan. Semakin kita rajin memperkatakannya, semakin hidup kita tertata. Setiap hari kita melatih dengan penuh kesadaran, maka hidup kita akan terus ditata. Alkitab berkata, “Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.” (1 Kor.3:10b). Kita harus terus membangun kehidupan kita. Jangan biarkan ‘sampah’ tinggal dalam kehidupan kita. Jangan biarkan konflik terpelihara di dalam hidup kita. Sebab konflik adalah pintu untuk iblis masuk. Jika konflik tidak terselesaikan, maka dia akan mengendap dan satu ketika dia akan muncul lagi. Tuhan berikan kita senjata untuk menyelesaikan konflik; perkatakan firman Tuhan, perkatakan hal-hal yang baik seperti yang Tuhan mau. Belajar dengar suara Tuhan. Waktu kita dengar suara Tuhan, itulah jaminan hidup kita. Jangan tertipu dengan keadaan. Jangan tertipu dengan segala persoalan yang sedang terjadi. Ingat, Tuhan tidak pilih kasih, ‘suara Tuhan’ bukan untuk pendeta saja atau orang-orang tertentu, ‘suara Tuhan’ adalah untuk semua kita. Waktu kita merenungkan firman Tuhan, renungkan karya Tuhan dan renungkan karakter Tuhan, maka kita tidak akan takut dan kuatir. Sebab kita akan melihat Tuhan kita hebat. Mari belajar mendengar suara Tuhan, belajar untuk berdialog dengan Tuhan. Tanyakan kepada Tuhan tentang keluargamu, anak-anakmu, suami/isterimu. Daniel 1:3-4 Ayat ini menerangkan bahwa mereka ini orang-orang hebat, keturunan bangsawan dan bukan petobat baru. Sejak dari Israel mereka telah mengenal Tuhan, dalam hal apapun yang mereka hadapi, mereka tetap mencari Tuhan. Alkitab tidak pernah mencatat bahwa mereka bersungut-sungut atau menggerutu. Mereka jalani semuanya dengan Tuhan. Tuhan suka dengan hati yang tidak menggerutu. Persungutan dapat  membunuh masa depan. Persungutan membuat tidak ada kemenangan dan dimusuhi oleh Tuhan. (Bd.Bil.14). Seringkali Tuhan izinkan masalah datang untuk melihat siapa kita di dalam Tuhan. Bersungut-sungut adalah tanda kita tidak percaya menyepelekan Tuhan. Waktu persoalan datang, seharusnya kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Jadi yang perlu kita lakukan adalah mengasihi Tuhan.

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; …. (Daniel 1:8)

Daniel mau ambil resiko di tengah kesukaran, sebab Daniel tahu kebenaran dan dia tahu taurat Tuhan.

Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; (Daniel 1:9)

Tuhan suka dengan ketetapan, Tuhan suka dengan komitmen untuk menjaga hidup, maka Tuhan pun turun tangan. (Bd. Amsal 21:1). Kekudusan itu menyenangkan hati Tuhan, karena kekudusan adalah sifat Tuhan (Imamat 19:2). Jika kita dapati hati kita sedang menyimpang, kembali kepada Tuhan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9).

Sesulit apa pun masalah yang kita hadapi, Yesus kasih tubuh dan darahNya untuk kita dan Dia berjanji; dimana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Mari alami kemerdekaan bersama Kristus. Alami kemenangan demi kemenangan bersama dengan Tuhan. Berdirilah teguh, berpegang pada perjanjian dengan Tuhan.  Amin.

Leave a Reply