Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Membangun Dengan Dasar Yang Benar

Ringkasan khotbah Pdt. Abraham Uniplaita
Minggu, 18 September 2016

10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. 11 Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. (1 Korintus 3:10-11)

Jika kita sadari hal ini, maka bukan lagi Tuhan yang membangun tetapi kitalah yang memutuskan bagaimana membangun. Hidup kita adalah seperti bangunan, tubuh kita sendiri disebut rumah Allah (bait Roh Kudus). Sebab kerinduan Tuhan adalah bangunan itu harus menjadi model.

Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?  (1 Korintus 3:1 – Bd. 1 Kor.6:19)

Tuhan memberikan kita kehendak bebas untuk mengambil keputusan bagaimana kita harus membangun. Sebab ada banyak model rumah yang kelihatan kuat, megah, memiliki daya tarik. Jika dibawa dalam kehidupan bergereja, kita lihat banyak orang punya karunia-karunia yang luar biasa, tapi ternyata keropos. Rumah itu ternyata bukan dari bahan yang sesungguhnya.

Tuhan memberitahukan kepada kita bahwa ada enam material yang digunakan:

Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, (1 Korintus 3:12)

Waktu kita mengambil keputusan untuk memilih material yang benar, itulah yang seringkali menjadi persoalan banyak orang Kristen. Jika menggunakan ‘jerami’, mungkin murah, kelihatan bagus dengan permainan warna yang indah. Tapi jika disulut dengan api, maka rumah itu akan mudah terbakar. Orang seperti ini, mudah marah, emosi, mudah mencacimaki dsb. Jadi firman Tuhan mengajarkan bahwa rumah kehidupan kita hanya teruji ketika dibakar.

Ketika ada masalah atau persoalan, baru kelihatan bahwa rumah itu bagus atau tidak. (Bd. 1 Kor.3:13). Jika menggunakan ‘kayu’, mungkin sedikit lebih baik dari ‘jerami’, tapi toh mudah terbakar. Jika menggunakan ‘perak’ atau ’emas’, tetap jika terkena api pasti meleleh.

Ada satu yang tidak dapat terbakar, yaitu ‘permata’. Dalam kitab Keluaran, Tuhan mengalegorikan kita sebagai ‘permata’. Jadi jangan pakai material yang lain untuk membangun rumah Tuhan, pakai permata, sebab permata itu mahal.  Permata bicara tentang proses panjang yang telah dilewati, sebab itu intan memiliki nilai yang tinggi dan harga yang mahal. Tidak ada anak Tuhan di dunia ini yang tidak mengalami proses.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. (Matius 5:9)

Pertanyaannya, apakah kita suka membawa damai atau tidak? Ataukah kehadiran kita membawa masalah bagi orang lain? Seringkali kita temukan orang yang mengaku diri anak Allah, tapi tidak bisa menjadi model (rumah kehidupannya tidak bagus).

Kata yang dipakai untuk ‘anak Allah’ adalah ‘uihos’ yang artinya seorang anak yang mengambil keputusan untuk meninggalkan kekanak-kanakan, meninggalkan kepentingan diri sendiri dan menjadi dewasa. Kenapa terjadi banyak persoalan dalam hidup kita, kenapa orang Kristen tidak menjadi model? Karena kita membiarkan sifat kekanak-kanakan itu terus leluasa bekerja di dalam kita. Kebahagiaan itu terjadi ketika sifat kekanak-kanakan itu hilang.

Contoh di dalam Alkitab: Lukas 15:11-32. Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kedua anak ini kehilangan hubungan dengan bapa, baik anak bungsu yang di luar rumah maupun anak sulung yang  tinggal bersama bapanya di rumah. Perumpamaan tentang anak yang hilang ini juga menjelaskan bahwa status kita sebagai anak tidak menjamin bahwa hubungan kita dengan Bapa di Sorga itu akan terus baik. Anak yang sulung menggambarkan orang Kristen yang mengaku anak Allah, melayani di gereja, tapi memiliki karakter yang tidak baik. Hal ini dapat dilihat dari perkataan kepada bapanya.

Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. (Lukas 15:30)

Seringkali perkataan kita sebagai anak Tuhan dapat merusak dan tidak menjadi model. Jadi berhati-hatilah dengan sikap dan perkataan kita, karena kita sedang membangun model bait Allah yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Karakter buruk yang ditunjukkan oleh anak sulung ini antara lain: Mencurigai, memfitnah dan menghakimi. Bukankah hal ini juga sering terjadi pada anak-anak Tuhan yang ada di dalam gereja? Padahal mungkin saja orang yang kita hakimi telah bertobat dan berubah, sementara kita tertinggal dengan cara hidup kita yang lama.

Kenapa kita disuruh membangun?

Kita disuruh membangun sebab arsiteknya adalah Yesus. Dia telah menggambar rumah-Nya itu begitu indah. Satu-satunya cara kita dapat membangun rumah itu dengan baik adalah jika kita memiliki hubungan yang intim dengan sang arsitek itu sendiri yaitu Yesus Kristus. Jika tidak, maka kita akan salah membangun. Kita perlu hubungan yang intim dengan Tuhan supaya Dia menuntun kita memilih material mana yang cocok. Kita perlu membangun hubungan yang intim dengan Tuhan supaya Dia menuntun kita kepada langkah-langkah selanjutnya yang harus kita pilih.

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, (Efesus 5:15)

Artinya kita perlu memperhatikan bagaimana kita membangun hidup.

Kita sering keliru dengan mengartikan warisan yang Tuhan berikan dalam hidup kita adalah janji-janjiNya. Padahal warisan yang Tuhan berikan bagi kita adalah Yesus Kristus itu sendiri.

Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah. (2 Korintus 1:20)

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Untuk membangun bait Allah, rancangan Tuhan sudah jelas. Jangan pakai rancangan yang lain. Hidup benar, hidup kudus, memiliki integritas, semua itu menjadi standart bagi Tuhan. Ketika kita membangun model rumah Tuhan sesuai dengan kehendak Tuhan, kita pasti memiliki masa depan yang luar biasa. Waktu kita menjadi model bagi orang lain, maka kita akan mempengaruhi dan menginspirasikan orang lain.

12 Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; 13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, (Yeremia 29:12-13)

Jadi hari ini jika saudara bertanya, “Bagaimana saya mengatur suami atau isteri, bagaimana cara saya mengatur anak-anak, bagaimana saya mengatur bisnis dsb?” Jawabannya hanya kita dapatkan ketika kita membangun hubungan yang intim dengan Tuhan Yesus Kristus. Amin.

Leave a Reply