Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Tanggung Jawab Dalam Keluarga

Joji Pakaila 2
Ringkasan khotbah Pdm. Joji Pakaila
Minggu, 03 Juli 2016

Keluarga adalah dasar, atau inti dari gereja dan komunitas. Jika keluarga kuat, maka gereja dan  komunitas akan kuat. Jika gereja kuat, maka kota ini akan kuat.

Sejak awal Tuhan telah berfirman bahwa tidak baik manusia itu seorang diri. Pernikahan untuk menciptakan sebuah lembaga keluarga adalah idenya Tuhan. Adam dan Hawa adalah keluarga pertama yang dibentuk oleh Tuhan (Kejadian 2). Waktu Adam diciptakan dia diberikan otoritas penuh dari Allah. Dia yang memberi nama untuk segala yang diciptakan Tuhan. Suatu ketika sesuatu terjadi dengan keluarga ini dan hal ini menjadi pelajaran yang berharga bagi keluarga-keluarga kita di zaman ini.

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: …. (Kejadian 3:17)

Ada beberapa hal yang akan kita bahas dari ayat di atas:

1. Keluarga (Suami Istri) harus tahu Firman Tuhan

16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, 17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16-17)

Tuhan telah memberi perintah kepada Adam (pria/suami/bapa) lebih dahulu, Hawa belum ada saat itu. Jadi jika salah satu dari suami atau istri tidak tahu Firman, maka kita akan menjadi sasaran empuk dari iblis.

Kejadian 3:17, Ketika kita jatuh dalam dosa, maka tanah akan terkutuk karena kita. Tanah berbicara tentang kesuburan, kemakmuran, tanah bicara tentang prospek ke depan.

Ulangan 28:1, 11, 12, 15, 23

Keluarga sangat menentukan keberadaan tanah. Hubungan suami istri sangat menentukan keluarga itu diberkati atau tidak. Tidak berfungsinya suami atau istri dan tidak mengertinya Firman membuat Adam dan Hawa tertolak di hadapan Tuhan. Dosa bukanlah hal yang sepele, sampai hari ini dosalah yang memutuskan hubungan kita dengan Tuhan.

Iblis sangat serius untuk menjatuhkan dan merusak rumah tangga kita. Hidup ini sendiri adalah peperangan rohani. Sementara kerajaan Allah sibuk untuk menabur yang baik, sibuk untuk menarik gereja masuk dalam kebenaran Firman, iblis pun sedang sibuk untuk menabur yang buruk kepada keluarga-keluarga.  Keluarga atau pernikahan itu adalah idenya Tuhan. Sadari dengan baik kenapa kita menikah. Sebab setiap pernikahan adalah untuk menggenapi tujuan Tuhan.

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”  (Kejadian 2:18).

Jika hari ini kita melihat ada penyimpangan-penyimpangan; Laki-laki menikah dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, bahkan ada pernikahan antara manusia dengan binatang. Itu berarti iblis sedang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan gereja Tuhan. Padahal firman Tuhan jelas berkata, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kejadian 1:27).

Jika suami tidak tahu Firman, atau sebaliknya istri tidak tahu fungsinya di dalam keluarga, maka rumah tangga itu bisa hancur. Tuhan tidak iseng-iseng membentuk keluarga, Tuhan tidak iseng-iseng bawa kita masuk dalam pernikahan, sebab Tuhan punya tujuan dengan keluarga.

Efesus 5:22-24, 28-29

22 Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu.

Jangan menikah karena disuruh orang tua, jangan menikah karena harta, jangan menikah karena terlanjur hamil, dsb. Sebab setelah menikah pasti ada ujian untuk pernikahan kita. Jika iblis menjadi musuh kita, maka Tuhan pasti menjadi pembela kita. Tapi jika Tuhan yang menjadi musuh kita, siapa yang bisa jadi pembela kita. Tuhan sangat serius dengan keluarga-keluarga. Perceraian bukanlah idenya Tuhan (Bandingkan Markus 10:2-9). Jika hari ini ada keluarga-keluarga yang diterpa badai persoalan, hubungan suami istri diambang kehancuran, jangan ambil solusi perceraian, saudara akan menjadi musuhnya Tuhan. Sebab Tuhan menentang perceraian. Sebab itu peringatan untuk anak-anak muda, “Sebelum menikah pikir baik-baik, apakah laki-laki atau perempuan yang menjadi calon pasangan kita benar-benar dari Tuhan atau bukan.”

Ketaatan pada perintah Tuhan akan memuliakan-Nya. Istri, tunduk kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Hormati dan bantulah suamimu suapaya dia dapat berfungsi dengan maksimal. Suami, hargai dan kasihilah istrimu yang kamu sendiri pilih. Waktu kita rukun maka berkat itu diperintahkan oleh Tuhan (Mazmur 133).

Mari berfungsi dengan benar. Jika suami atau istri belum seperti apa yang diharapkan, jangan perkatakan yang sia-sia terhadap pasanganmu. Sebaliknya perkatakan yang benar terhadap pasangan kita, perkatakan firman Tuhan supaya terjadi dalam hidupnya.

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” (Amsal  18:21).

Apapun yang kita perkatakan kepada keluarga kita akan berdampak.

Ketaatan adalah langkah awal dari bentuk hormat kita. Taat bukanlah hal yang mudah untuk dikerjakan. Kita tidak lahir dengan membawa ketaatan. Ketaatan perlu dilatih, perlu untuk dipraktekan. Jika kita tidak belajar untuk taat, maka ketaatan itu tidak akan pernah terwujud. Ketaatan bukanlah satu karunia. Untuk kita taat ada harga yang harus kita bayar. Taat untuk firman Tuhan, taat untuk suamimu, hormati dan hargai dia.

12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. 13 Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. (Ibrani 4:12-13)

2. Miliki Otoritas

Otoritas tidak pandang usia. Ketika kita tahu Firman, kita tahu siapa kita di dalam Tuhan, itulah otoritas. Untuk kita memiliki otoritas kita perlu dipenuhi oleh Roh kudus. Roh kuduslah yang memperkenalkan kita kepada Kristus. Roh kuduslah yang menginsafkan kita dari dosa. Roh kuduslah yang mengajar kita supaya kita berfungsi dengan benar. Roh kudus membantu kita dalam segala kelemahan kita.

Kita lihat Adam penuh otoritas ketika dia memberi nama segala binatang, dia yang mengelola taman itu. Ini semua karena Roh Tuhan yang dihembuskan ke dalam diri Adam, sehingga dia berfungsi sama seperti Tuhan.

4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup. 5Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita. (2 Korintus 5:4-5)

Roh kudus adalah jaminan untuk kita menerima segala sesuatu yang telah disediakan Tuhan bagi kita. Jangan anggap remeh untuk dipenuhi oleh Roh kudus.

Kita punya otoritas jika di rumah juga kita tahu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Sekalipun kita punya jabatan dan kedudukan di kantor, tapi jika di rumah kita tidak tahu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah maka kita akan kehilangan otoritas di rumah.

Seorang istri dominan di rumah tidak terjadi dengan sendirinya. Seorang istri akan dominan di dalam keluarga ketika seorang suami atau bapa tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia. …. Kamu adalah terang dunia. ….” (Matius 5:13-14).  Suami istri, kita adalah garam dunia, dan kita adalah terang dunia. Kita ditentukan untuk mengkhamiri dunia ini, kita ditentukan untuk menjadi terang dan menjadi berkat bagi kota ini.

Tuhan ingin untuk suami istri menjadi terang dan berfungsi dengan benar. Tuhan juga ingin anak-anak berfungsi dengan benar.

Mari aktifkan iman kita menjadi iman yang menantang Tuhan. Seperti seorang perwira Romawi yang datang kepada Yesus. (Matius 8:5-8; 9:20-22).

Apa yang sedang terjadi dengan rumah tangga saudara? Apa yang sedang saudara alami? Yesus sanggup memulihkan rumah tanggamu, Yesus sanggup memulihkan hidupmu. Jika kehidupanmu sedang baik-baik, mungkin ini waktunya saudara berdoa untuk orang lain. Berdoalah untuk tetanggamu, untuk temanmu, untuk lingkunganmu. Mari jadi garam dan terang bagi mereka. Biarlah waktu mereka melihat keluarga kita, mereka memuliakan Bapa di Sorga.  Amin.

Leave a Reply