Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Menjaga Rumah Tangga

Pdt. Ruland Letedara
Ringkasan khotbah Pdt. Ruland Letedara
IR 3 – Minggu, 24 Juli 2016

Matius 19:1-8

3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?”

4 Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?

5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

7 Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?”

8 Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.

Waktu seseorang hendak menceraikan pasangannya, dia harus ingat bahwa waktu dia mengucapkan janji nikahnya di depan altar, saksi yang hadir untuk memeteraikan pernikahan itu adalah Allah sendiri. Semua perjanjian yang di buat di dalam Alkitab yaitu antara manusia dengan Allah. Hanya perjanjian nikahlah yang melibatkan tiga pihak yaitu manusia dengan pasangannya dan Allah sebagai saksinya. Itu sebabnya jika sepasang suami isteri memutuskan untuk bercerai, maka mereka juga harus melibatkan Tuhan yang menjadi saksi.

Allah membenci perceraian dan seharusnya kita juga harus membenci apa yang Allah benci.  Dalam konteks ayat di atas sebenarnya Tuhan Yesus tidak menjawab pertanyaan secara langsung. Masalahnya bukan saja pada perceraian, tapi dari awal jika pernikahan itu salah, maka selanjutnya akan salah.

Bagaimana pria dari awalnya berperan  (Silahkan membeli rekaman IR II) dan bagaimana seorang wanita berperan:

1. Seorang isteri atau wanita seharusnya menjadi ‘Penolong’

2. Wanita adalah ‘Produser’

Artinya; dia akan memproduksi apa saja yang diberikan suaminya. Jadi suami mengusahakan dan isteri memproduksi. Contoh:  Jika suami memberikan uang belanja, isteri akan menjadikan itu makanan untuk keluarga. Jika suami memberikan isteri rumah, maka isteri akan  menjadikan rumah itu tempat yang nyaman. Suami memberikan sperma, maka isteri akan melahirkan anak. Itulah sifat alami dari isteri.

3. Wanita adalah ‘Inkubator’

Apa saja yang dimasukan ke dalam inkubator akan memberi hidup dan mengembalikannya kepada kita. Apa saja yang dimasukan ke dalam inkubator akan berlipat ganda. Itulah sebabnya wanita harus berhati-hati sekali tentang apa yang mereka dengar. Sebab apa yang wanita dengar dia akan mengeraminya. Itu sebabnya jika kita memberikan satu kata kepada isteri kita, maka dia akan mengembalikan satu kalimat. Jika saudara berikan satu kalimat, maka dia akan kembalikan satu paragraf. Jika saudara berikan satu paragaraf, maka dia akan kembalikan satu buku. Sebaliknya jika saudara memberikan dia rasa frustrasi, maka dia akan kembalikan neraka buat saudara. Dan biasanya apa yang diberikan tidak langsung dikembalikan, tapi ditampung sampai satu ketika dia akan meledak. Sebab itu jangan berikan isteri gosip, karena dia akan multiplikasi.

Jika para wanita mau menjadi isteri yang baik, pastikan bahwa anda menerima hal-hal yang baik. Karena apapun yang anda terima akan di multiplikasi dan dikembalikan kepada suami anda. Apapun yang anda lihat, apapun yang anda dengar, pastikan bahwa hal itu bukanlah sampah.

4. Wanita pada mulanya adalah wanita yang memberi semangat kepada suaminya.

Alkitab mengatakan dia adalah penolong buat Adam. Itulah sebabnya waktu suami menceritakan visi, mimpi dan kerinduannya, yang dia harapkan adalah istrinya memberi semangat. Masalahnya banyak isteri yang mematikan semangat suaminya ketika suami menceritakan visinya.

Pernahkah para isteri berpikir “Kenapa suamiku sering pulang terlambat, bahkan sering lembur.” Perselingkuhan tidak terjadi dengan tiba-tiba. Selingkuh sampai menjadi perceraian adalah hasil akumulasi dari banyak hal. Tantangan bagi para isteri adalah membuat suami betah di rumah. Dengan kata lain “Sudahkah para isteri menjadikan rumah itu tempat yang nyaman?”

5. Wanita itu ‘Reseiver’

Wanita diciptakan untuk menerima.

Wanita biasanya menginginkan apa yang dilihatnya menarik. Jika dia mampu dia akan cenderung konsumtif. Keadaan seorang isteri yang konsumtif bisa berbahaya, sebab jangan sampai keinginan isteri berubah menjadi tekanan bagi suaminya.

6. Wanita pada mulanya adalah seorang nabiah.

Itulah sebabnya jika kita mau mendengarkan ulang apa visi kita, bicarakan pada isteri. Isteri dapat mengulangi bahkan melipatgandakan apa yang pernah diberikan suaminya. Misalnya Suami berjanji untuk melakukan suatu hal dan dia belum menepatinya, maka isteri dapat menceritakan ulang apa yang dijanjikan suaminya bahkan lengkap dengan catatan waktunya.

 

Apa yang firman Tuhan katakan tentang perceraian?

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. (Matius  5:32)

Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” (Matius  19:9)

Pertanyaannya, “Bolehkan seorang menceraikan pasangannya dengan alasan apapun?”

Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. (Matius 19:8)

Waktu kita menikah tanpa pemberkatan yang sah, maka kita tidak akan menggenapi alasan pernikahan. Sebab Alkitab katakan; maka mereka akan bersatu, beranak cucu dan penuhi bumi. (Kejadian 1:27-28). Pertanyaannya, “Mengapa negeri kita kelihatannya banyak kekacauan etika?” Sebab dari rumah kita sudah salah memulainya.  Firman Tuhan berkata,

“Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.” (Maleakhi  2:15).

Ketika kita tidak memulai dengan benar, kita anggap remeh prinsip firman Tuhan, kita mengikuti nafsu kita, kita merasionalisasi segala alasan. Akibatnya keturunan yang kita lahirkan bukanlah keturunan ilahi, melainkan para pendosa.  Jadi jika satu bangsa kacau, perhatikan masyarakatnya. Ketika masyarakatnya kacau, maka lihat komunitasnya. Jika diurutkan terus maka akan sampai kepada keluarganya dan kemudian sampai kepada individu. Individu di sini adalah pria maupun wanita yang di atasnya adalah Allah yang menciptakan.

Tuhan menciptakan laki-laki, kemudian dia menciptakan perempuan dengan bahan baku dari laki-laki itu. Kemudian Dia berkata, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, …”  Di sini yang Tuhan maksudkan bukan ekspansi marga. Tapi yang Tuhan maksudkan adalah memultiplikasi gambar Allah dalam diri laki-laki dan perempuan. Yang diharapkan dari hubungan ini adalah keturunan ilahi. Jadi jika kita salah, maka kita tidak akan melahirkan keturunan ilahi.

Bagaimana jika kita sudah terlanjur salah? Jawabnya Matius 19:8, tapi perlu diingat bahwa sesuatu yang dibolehkan belum tentu benar. Tuhan memang mengampuni tapi konsekwensinya belum tentu hilang. Sebab itu kita tidak bisa merasionalisasi segala alasan untuk bercerai.

Jadi mari kita hidup seperti apa yang firman Tuhan ajarkan. Selalu membangun hubungan dengan Tuhan dalam doa dan bergaul dengan firman-Nya. Miliki komunitas yang dapat membawa kita bertumbuh di dalam pengenalan yang benar akan Tuhan kita. Amin.

Leave a Reply