Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Kenaikan Yesus (Time Table Factor)

Jonathan Pattiasina 2
Ringkasan khotbah Pdt. Jonathan Pattiasina
IR I Kenaikan, Kamis, 05 Mei 2016

Mengapa kita merayakan kenaikan Tuhan Yesus? Baca Markus 16:9-20 Hal ini yang membuat kita mengerti mengapa Yesus harus pergi.

19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.

Ada tiga faktor yang menjadi penentu mengapa Yesus harus naik ke Sorga: Hal yang pertama yang akan kita bahas di sini adalah ‘Time Table Factor’ (Faktor Waktu/Jadwal Ilahi). Tuhan kita adalah Tuhan yang bekerja sesuai waktu. Dalam hidup ini kita harus menjadi orang-orang yang mengetahui ‘waktu’. Kita harus tahu bahwa “Saya ini adalah orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dan saya sedang mengerjakan hal-hal yang tepat.”

Yesus dalam pelayananNya Dia sudah tahu bahwa waktuNya sudah sampai. ‘Waktu’ yang dimaksud di sini adalah waktuNya berada di dunia dan melangsungkan rencana Allah telah selesai. Jadi pengetahuan ini bukanlah sekedar pengetahuan biasa, tapi merupakan sebuah tanda bahwa tujuanNya sudah sampai. Dia harus berpindah kepada tugas yang berikutnya, Dia harus berpindah kepada sesuatu yang lebih besar dari apa yang sudah Dia kerjakan.

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. ….. (Yoh.13:1)

Kenapa Dia harus beralih dari dunia kepada Bapa? Kenapa Yesus tidak tinggal dengan kita setiap saat? Ternyata ada waktunya Bapa, ada waktunya Anak dan ada waktunya Roh kudus. Sebab jika Tuhan hanya tinggal sebagai manusia yang terbatas, maka kita akan sama seperti semua agama di dunia ini. Dimana kalau kita mau bertemu dengan Yesus, maka kita harus pergi ke Yerusalem. Yesus tahu persis bahwa saatnya sudah selesai.

Kenapa Yesus harus berbalik kepada Bapa dan sudah siapkah Yesus berbalik kepada Bapa? Apakah murid-muridNya sudah siap untuk ditinggalkan oleh Dia? Tuhan lebih suka ada di Sorga. Supaya semua potensiNya yang Dia taruh di dalam kita keluar dan dinyatakan dalam kehidupan ini. Sebab tujuan Yesus datang ke dunia ini adalah untuk menebus kita dan mengembalikan kita pada posisi sebelum dijadikan. Setelah Dia tebus kita dan persiapkan kita, maka Dia harus pergi supaya hasil dari penebusanNya kelihatan.

Ini adalah ide yang orang Kristen tidak suka sebab idenya terlalu kelihatan sangat ekstrim, dan yang tidak disukai oleh agama. Kadang Tuhan suka meninggalkan kita seketika supaya kita belajar satu dimensi yang tidak kelihatan dengan mata, tidak didengar oleh telinga, satu dimensi yang harus dibaca dengan hati, yang harus dibaca dengan iman dan yang harus dibaca dengan mata rohani. Secara spirit Tuhan selalu ada, tapi secara wujud manusia Dia tidak mau berada dengan kita. Supaya kita tidak bergantung pada pengalaman penglihatan mata jasmani, tapi kita bergantung pada kaca mata iman.

Ada satu ide yang lain: Ada satu kata yang Yesus pakai yang kita tidak suka, tapi itu adalah kata pendidikan:

14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; 15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. … (Yohanes 11:14-15)

Bayangkan saja Lazarus mati namun Yesus berkata “…syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, …”

Hal ini bertentangan dengan kebiasaan sebagian besar orang Kristen, dimana kita terbiasa merengek minta bantuan Tuhan untuk segala pergumulan kita. Kita seperti kanak-kanak yang tidak pernah belajar realita iman. Fokus kita pada agama. Padahal realita iman adalah memandang pada hal yang tidak kelihatan. Iman kita hanya bisa diaktifasi jika kita beralih dari hal-hal yang kelihatan kepada hal-hal yang tidak kelihatan.

“….., sebab demikian lebih baik bagimu, …”

Ini adalah pernyataan yang kontradiksi dengan doa anak-anak Tuhan di gereja “Tuhan, hadiratMu adalah segala-galanya.” Kita harus membedakan hal ini, faktanya hadirat Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tapi prinsipnya adalah realita dari kehadiran Tuhan itu tidak dapat dilihat dalam bentuk wujud, tapi realita kehadiran Tuhan hanya dapat dilihat dengan iman. Berhenti gunakan perasaan-perasaan!

“…, supaya kamu dapat belajar percaya. …”

Kata belajar adalah ‘Continually expect something new’ (terus menerus mengharapkan sesuatu yang baru). Seperti sebuah gelas yang diharapkan diisi lagi setelah diminum, diisi lagi terus-menerus. Demikianlah perjalanan iman kita.

Jadi Tuhan sudah tahu bahwa waktunya tepat supaya orang belajar iman, supaya aktifasi iman kita terjadi. Jika kita mengerti kata ini, baru kita dapat mengerti ayat yang orang selalu pakai pada waktu kenaikan Yesus. Jika hal di atas belum disampaikan kepada mereka, maka orang tidak akan mengerti kenapa Yesus harus pergi, kenapa dia tidak mengendarai kuda putih kemudian pimpin kita pergi berperang. Jika kita sudah paham hal ini bahwa ‘time table’ Tuhan sudah selesai, maka inilah waktunya mengaktualisasi iman kita, bukan waktunya meraba-raba, bukan waktunya bermain perasaan.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; (Yohanes 14:12)

Berapa banyak generasi yang merasa ditinggalkan Tuhan. Yesus berkata, “hal itu lebih baik bagimu.” Jika hari ini ada orang yang merasa “sepertinya Tuhan tidak perduli kepadanya.” Yesus berkata, “hal itu lebih baik bagimu.” Sebab yang mengalahkan dunia bukan orang Kristen yang cengeng, yang selalu merasa ditinggalkan. Tuhan tidak mencari orang-orang seperti itu. Ini bukan bahasa agama tapi bahasa iman.

Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. (Yohanes 14:11)

‘Percaya’ dapat terjadi jika kita shut down (matikan) seluruh panca indra kita. Sebab itu kegelapan sangat baik untuk kepercayaan kita. Berjalan dalam gelap adalah saat yang terbaik untuk melatih panca indra kita. Daud berkata, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya.” Ada kata bijak berbunyi , “Jangan berharap kepada manusia, sementara bayangan kita sendiri pergi meninggalkan kita di saat kegelapan.” Iman kita akan bereaksi ketika seluruh indra kita tidak berfungsi. Oleh karena itu bersyukurlah jika perasaan kita sedang digoncangkan, disakiti atau dilukai, tenang saja.  Waktu perasaan kita terluka, iman kita harus mengatasi hal tersebut.

Pertanyaannya, “Apa yang harus kita lakukan?” Begitu keadaan sepertinya kosong, itulah yang dimaksud “supaya kamu dapat belajar percaya.”

Tuhan selalu mengerjakan apa yang belum ada menjadi ada. Yohanes 14:12 mejelaskan bahwa tidak perlu ada bukti. Haruskah apa yang kita lakukan, sudah ada orang lain lebih dahulu melakukannya? Semua yang kita lakukan di muka bumi ini tidak harus bergantung pada apa yang pernah orang lain lakukan. Banyak orang yang mau mengambil keputusan bergantung pada  data statistik. Padahal statistik juga dapat menjadi pembunuh iman nomor satu. Contoh: Menurut statistik gereja setelah berusia 30 tahun biasanya mengalami penurunan. Jika ada yang pernah gagal, biarkan mereka gagal, hal itu tidak akan terjadi pada kita.

Jika dijelaskan lebih sederhana lagi, Yesus berkata “Percayalah kepadaKu, maka kamu akan melakukan apa yang aku lakukan atau yang belum pernah Aku lakukan.” Berarti ‘time table’ ini adalah ‘time table’ untuk mengaktifasi semua iman dalam diri orang percaya. Jadi sekarang waktunya kita yang ada di bumi untuk mengaktifasikan iman kita.

Supaya kita masuk kepada realita iman Yesus Kristus dan bukan kepada apa yang kita lihat di dalam dunia ini. Memang kita hidup di dunia, namun ada realita iman yang membawa kita hidup berkemenangan, yaitu kemenangan atas dunia.

Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. (I Yohanes 5:4-5)

Perlu diketahui bahwa ‘dunia’ berbicara tentang sistem, sedangkan ‘bumi’ adalah tempatnya.

Ada dua manfaat penting yang kita pahami: Pertama, Yesus harus pergi supaya iman kita teraktifasi. Kedua, Jika iman kita sudah teraktifasi, yang harus kita perbuat adalah kalahkan dunia. Kalahkan apa yang membatasi kita, kalahkan perkataan-perkataan negatif terhadap kita. Kalahkan orang-orang yang berkata, “Kamu kecil, kamu tidak bisa, kamu tidak mampu, kamu bodoh, kamu terbatas, kamu gagal, dsb” ‘Kenaikan Yesus’ ini jelas sangat berarti untuk kebangkitan semua orang kudus.

Jika kita baca bagian akhir dari keempat Injil, hanya injil Markus dan Lukas yang mencatat kenaikan Tuhan Yesus. Matius dan Yohanes tidak mencatat kenaikan Yesus karena tujuannya memang berbeda. Injil Lukas mencatat dengan detail bagaimana kenaikan Yesus. Lukas menulis dua buku, yaitu Injil Lukas dan Kisah para rasul. Lukas menjadikan kenaikan Yesus sebagai kesinambungan dari dua kisah yang coba dia ajarkan. Semua ahli Theologia berkata Injil Lukas itu ‘pekerjaan Yesus’, kitab Kisah para rasul itu ‘pekerjaan para rasul’ dan keduanya disambungkan dengan hubungan yang sederhana yaitu “Jika Yesus tidak naik ke Sorga, bayangan Petrus tidak dapat menyembuhkan orang sakit. Jika Yesus tidak naik ke Sorga, maka para murid berdoa tidak akan ada goncangan. Jika Yesus tidak naik, tidak ada pintu penjara yang terbuka, jika Yesus tidak naik, tidak akan ada 3000 orang yang datang dalam satu hari saat Petrus berkhotbah, dst.  Time table Tuhan selesai di dunia ini, supaya kita dengan iman meraih kembali semua yang Yesus kerjakan. Bahkan yang Dia akan kerjakan melalui kehidupan kita. Amin.

Leave a Reply