Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Berdiri Pada Posisi Yang Tuhan Mau

Joji Pakaila

Ringkasan khotbah Pdm. Joji Pakaila
Minggu, 29 Mei 2016

Lukas 5:1-11

1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

Di situ ada dua perahu dan Tuhan Yesus sendiri yang memilih untuk naik ke salah satu perahu. Ternyata perahu yang Yesus naiki adalah milik Simon. Kenapa Yesus mau pakai perahu Simon (seorang yang tidak terpelajar)? Jawabnya sederhana, karena Yesus butuh sarana untuk memberkati orang banyak yang mengikut Dia. Yesus mau pakai sarana yang dimiliki oleh Simon, Yakobus dan Yohanes untuk memberkati orang lain. Yesus tidak memandang mereka sebagai orang berdosa yang harus dipinggirkan. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak sempurna, sebab Tuhan tidak tunggu kita sempurna dahulu baru kita dipakai-Nya.

Ada empat hal yang kita pelajari dari pembacaan Lukas 5:1-11 ini:

1) Tuhan mau pakai sarana yang ada dalam kehidupan kita (Lukas 5:1-3).

Sarana yang kita miliki mungkin sederhana, tapi Tuhan mau pakai untuk memberkati orang lain. Dibutuhkan sarana untuk penginjilan, dibutuhkan sarana untuk orang berjumpa dengan Tuhan. Kita dipilih oleh Tuhan untuk menjadi sarana itu. Yesus mau pakai apa yang ada pada kita, bukan yang tidak ada pada kita. Yesus pilih orang-orang yang sederhana karena Dia mau buat pesan yang sederhana untuk dimengerti oleh orang banyak dengan cara yang sederhana. Supaya orang berdosa bisa tertolong. Orang yang tertolak dan tidak punya masa depan bisa tertolong. Ketika Yesus memilih kita, maka tidak ada yang dapat menghalangi-Nya. Seberdosa apapun seseorang, iblis tidak dapat menghalangi rencana Tuhan bagi orang itu.

Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. …. (Efesus 1:4-5)

Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna (Bd. I Yohanes 1:8-10). Setiap kita membutuhkan Tuhan, karena selama kita hidup kita masih berpotensi untuk gagal dan berbuat dosa.

Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. (Roma 6:13)

Mungkin kemarin kita melakukan kesalahan, tapi hari ini kita punya kesempatan untuk memuji dan menyembah Tuhan. Artinya ada kesempatan untuk kita memperbaiki diri. Firman-Nya jelas, setiap kali kita mengaku dosa, Allah setia dan adil. Dia akan mengampuni dan menyucikan segala dosa kita (I Yohanes 1:9). Kita semua dipilih Tuhan untuk melakukan apa yang Dia kehendaki. Jangan mau diperhamba oleh dosa. Jangan mau menyerahkan diri untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, sebab kita dipilih oleh Tuhan. Percayalah kalau Tuhan bisa pakai Simon, Yohanes dan Yakobus, Tuhan juga bisa pakai kita. Yesus mati dan rela berkorban adalah untuk menggenapi rencana Tuhan dalam hidup kita.

Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. (Amsal 24:16)

Tuhan memilih salah satu perahu supaya orang lain melihat kuasa-Nya. Kita sedang hidup di zaman dimana orang tidak akan melakukan sesuatu tanpa dibayar, termasuk menolong orang lain. Tapi waktu kita mengerti siapa kita di dalam Tuhan, kita tetap mengerjakan bagian kita, inilah yang membungkam mulut lawan. Waktu kita jujur di sekolah, waktu kita jujur di kantor, waktu kita jujur di kampus, maka kita akan terlihat berbeda.

Jika kita mengenal Tuhan, kita tidak akan berlaku curang dan berlaku tidak jujur. Sebab kita tahu bahwa Bapa di Sorga akan memenuhi segala kebutuhan kita dan pertolongan-Nya tidak pernah terlambat. Kita akan jadi tontonan orang-orang di sekitar kita ketika kita hidup mengandalkan Tuhan.

Jika kita mengenal Tuhan, kita akan memilih untuk berdamai dengan semua orang. Kita akan memilih tidak melakukan seks sebelum menikah. Sebab kita pegang nilai-nilai kebenaran firman Tuhan. Sebagai suami kita mengasihi istri, sebagai istri kita menghormati suami. Sadar atau tidak, dunia sedang menonton bagaimana kita menghadapi masalah dengan cara yang berbeda, yaitu dengan mengandalkan Tuhan.

‘Perahu-perahu’ kita sedang dipilih Yesus untuk dipakai menjadi berkat bagi orang banyak. Sadari dan tanamkan nilai ini dalam kehidupan kita: “Melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri adalah sesuatu yang luar biasa.” Jika kita berbuat baik, kita jujur, maka kita tidak akan rugi. Waktu kita hidup seperti apa yang Tuhan mau, kita akan dihormati. Sebab kita berdiri pada posisi seperti yang Tuhan mau. Jika berbicara tentang ‘memimpin’ dalam Kerajaan Allah, hal ini bukan tentang kedudukan dan jabatan, tapi tentang gaya hidup yang bisa menjadi contoh, bisa menjadi teladan dan memberi pengaruh bagi orang lain.

2) Ketaatan menghasilkan mujizat.

4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” 5 Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” 6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. (Lukas 5:4-6)

Ketaatan terhadap firman Tuhan membuat segala perkara dapat terjadi bukan karena pengalaman manusia. Taat untuk hal-hal yang kecil dapat menghasilkan sesuatu yang besar. Jangan remehkan firman Tuhan. Mujizat dimulai dengan ketaatan. Ketaatan Simon, Yakobus dan Yohanes menghasilkan mujizat yang besar. Banyak hal yang terjadi di dunia ini berawal dari sesuatu yang kecil.

3) Berbagi berkat dengan orang lain.

6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. (Lukas 5:6-7)

Waktu mereka mengalami berkat mereka tidak berunding bagaimana caranya supaya tidak ada satu berkatpun yang hilang. Tapi lihat reaksi Simon, Yakobus dan Yohanes. Mereka panggil perahu yang lain, yang tidak dipilih oleh Yesus. Artinya melalui hidup mereka, orang lainpun diberkati. Mari belajar untuk memberkati orang lain.

Jika kita membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, tidak pernah kita temukan bahwa orang yang menabur itu miskin. Jika mereka anak Tuhan, jika mereka mengenal Tuhan, jika mereka mendengar suara Tuhan, jika mereka beribadah kepada Tuhan dengan segenap hati, waktu mereka menabur, maka mereka tidak pernah mengalami kemiskinan. Jangan takut kekurangan waktu kita berbagi. Tuhan tidak pernah berhutang, Dia pasti membalas lebih dari apa yang telah kita tabur. Biarkan Tuhan bekerja melalui hidup kita. Kita hanya perlu berdiri pada posisi yang Tuhan kehendaki. Contoh: Kisah Elia dan janda di Sarfat (I Raja-raja 17:7-16). Terlebih berbahagia memberi dari pada menerima (Kisah 20:35). Memberi selalu lebih baik. Memberi selalu menguntungkan. Memberi itu menyenangkan.

4) Menjaga hubungan dengan Tuhan.

10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Lukas 5:10-11)

Murid-murid tidak fokus dengan berkat. Mereka tidak tergila-gila dengan berkat yang Tuhan berikan. Tapi mereka lebih berfokus kepada mengikut Yesus. Jangan gantikan ‘hubungan’ dengan berkat. Jangan gantikan Tuhan dengan pelayanan, sebab hubungan dengan Tuhan lebih penting dari apapun. Hubungan dengan Tuhan tidak dapat digantikan dengan berkat apapun. Amin.

Leave a Reply