Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Menolak Tunduk Pada Ilah Asing

Pdt. Ruland Letedara

Ringkasan khotbah Pdt. Ruland Letedara
Minggu 10 April 2016

Iman Kristen sepanjang sejarah selalu diperhadapkan dengan berbagai ancaman yang bertujuan menghilangkan eksistensi gereja. Entah itu berupa cemoohan, entah itu penderitaan, konspirsi, aniaya, dll. Ancaman tersebut masih berlangsung sampai hari ini. Untuk mempertahankan iman percaya kita, kita harus bertumbuh dalam pengenalan dan ketaatan kita kepada Tuhan.

Baca  Daniel 3:12-30, Kunci dari kitab Daniel adalah pengakuan dari raja Nebukadnezar di ayat 28-29.  Pertanyaannya, “Mengapa ketiga pemuda itu berani menentang raja yang begitu berkuasa pada zaman itu?” Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari, antara lain:

1. Mereka berani untuk berdiri di atas kebenaran.

Mereka berani menentang titah raja karena mereka mengenal Allah yang mereka sembah. Perhatikan kalimat ini,

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (ay.17-18)

Itu sebabnya dasar kekristenan adalah proses pengenalan akan Allah. Seringkali kita bereaksi terhadap setiap ancaman dari luar yang membuat kita depresi dan menantang iman kita. Hal itu tidak ditentukan oleh hal-hal eksternal, tapi ditentukan oleh sejauh mana kita mengenal Allah kita.

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

Jadi kesimpulannya yaitu; keselamatan adalah pengenalan akan Allah. Keselamatan bukanlah berpindah dari neraka ke Sorga. Kita perlu memahami bahwa menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamat, bukan peristiwa yang terjadi secara mujizat dan selesai. Kemudian kita santai dan berleha-leha, mempertahankan apa yang ada pada kita dan tidak berusaha lebih mengenal siapa yang kita sembah. Jika kita telah menerima Yesus sebagai Tuhan lebih dari dua tahun dan kita hanya pasif mempertahankan diri dalam rutinitas agamawi, maka kita tidak akan memiliki dasar yang kuat. Artinya kita tidak akan bertahan menghadapi patung-patung emas modern saat ini.

Memahami bahwa keselamatan itu adalah proses yang panjang, itu sebabnya firman Tuhan berkata, “Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi”. Injil yang kita dengar selama ini lebih banyak tentang berkat-berkat. Padahal tidak demikian, sebab ikut Yesus tidak selalu menyenangkan. Yesus tidak pernah memberitakan ‘Injil berkat’. Berkat pasti mengikuti kita, tapi itu bukanlah tujuan utama kita memberitakan Injil. Berkat itu adalah akibat dari keselamatan dan ketaatan kita.

Definisi Keselamatan:

Keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia kepada rancangan Allah yang semula, yaitu menjadi serupa dengan Dia. Itu sebabnya pertobatan adalah langkah awal menuju proses panjang pengenalan akan Allah dan pembentukan kehidupan kita menuju keserupaan dengan Kristus.

Pengenalan akan Allah yang dimiliki oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego sangat berakar, sehingga mereka sangup menolak untuk menyembah allah lain.

Allah tidak langsung memberi segala aspek dari sifat dan rencana-Nya sekaligus waktu kita bertobat. Allah tidak langsung memberikan segala sesuatu tentang diri-Nya ketika kita baru bertobat. Setiap kita yang lahir baru pernah merasakan betapa gairahnya seseorang ketika baru bertobat. Tapi kenapa setelah berjalan beberapa tahun kita merasa seperti Tuhan jauh. Semua ini bisa terjadi karena untuk mengenal Allah kita harus melalui proses yang panjang. Banyak orang Kristen jatuh bangun karena mereka tidak berjalan dalam proses itu.

Proses pengenalan kita terhadap Allah sangat mirip dengan proses pengenalan pasangan suami-istri. Dibutuhkan eksplorasi yang terus-menerus untuk mengenal pasangan masing-masing. Demikian juga dengan Tuhan. Sebab itu jika motivasi kita bukan mencintai dan mengenal Allah, maka kekristenan dan ibadah kita hanyalah seremonial  tanpa pengenalan akan Allah.

Ujian itu akan datang ketika kita diperhadapkan dengan sistem dunia. Seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang diuji kesetiaannya untuk tidak kompromi dengan menyembah patung emas buatan raja Babel. Demikian juga kesetiaan kita akan diuji dengan sistem dunia yang bertentangan dengan firman Tuhan.

Seringkali kita kompromi karena kita tidak mengenal Allah kita. Banyak orang Kristen hanya mengenal Allah berdasarkan mujizat: Jika sakit datang pada Yesus, maka kamu akan disembuhkan. Jika susah datang pada Yesus, maka kamu akan mendapat pertolongan. Daftar ini akan semakin panjang. Jika mujizat yang menjadi motivasi kita dalam mengikut Tuhan, maka waktu ujian datang iman kita akan goyah. Sebab itu dalam penginjilan  jangan hanya beritahukan bahwa ikut Yesus segala sesuatu pasti beres. Tapi kita juga harus kasih tahu bahwa ikut Yesus, maka kita akan melalui jalan yang panjang. Kita harus serahkan hidup kepada Tuhan dan izinkan Dia untuk berdaulat atas hidup kita.

Ada waktu kita diberkati, ada waktu dimana kita tidak merasa diberkati. Ada waktu kita sakit dan disembuhkan, tapi ada waktu dimana kita sakit dan belum sembuh-sembuh. Bahkan ada yang meninggal sekalipun sudah berdoa.

Yesus berkata:

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24).

Introspeksi diri kita masing-masing, apakah dasar bangunan kita benar atau tidak.

Bagaimana kita dapat mengenal Tuhan?

Kita harus menyediakan waktu untuk Tuhan, membaca, merenungkan firman dan yang terpenting mentaati firman-Nya. Tujuannya supaya firman itu berakar di dalam kita. Firman itu harus menjadi ‘panglima’ dalam kehidupan kita. Ada pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab secara pribaadi, misalnya: Apakah ‘mendengar suara Tuhan’ telah menjadi ‘panglima’ dalam kehidupan kita atau tidak? Apakah ‘firman Tuhan’ menjadi ‘panglima’ untuk memutuskan segala hal dalam hidup kita?

Pengalaman dan kesaksian orang lain memang penting untuk meneguhkan firman Tuhan yang kita terima, tapi pengalaman dan kesaksian mereka bukanlah kebenaran itu sendiri. Sebab hanya firman Tuhan yang merupakan kebenaran mutlak.

Pengenalan akan Allah datang dari dua sumber: Pertama, firman yang tertulis (logos) dan kedua, adalah firman yang dialami (rhema).  Kedua hal ini harus berjalan bersamaan. Kita tidak boleh menekankan yang satu lebih dari pada yang lain.  Firman yang dirhemakan harus diuji oleh firman yang tertulis sebelum hal itu diterapkan dalam kehidupan kita. Jika kita hanya berdasarkan rhema, maka kita akan hanyut. Tetapi jika kita hanya berdasarkan logos, maka kita tidak akan pernah mengalami firman itu.

2. Mereka menyerah pada kedaulatan Allah.

Mereka mengikuti Allah bukan berdasarkan ‘Apa yang mereka bisa dapatkan dari Dia’. Dengan kata lain Zadrak, Mesak, dan Abednego sedang berkata, “Kami ikut Tuhan bukan karena Dia memberkati kami. Kami ikut Tuhan bukan karena Dia sembuhkan kami. Kami ikut Tuhan bukan karena Dia melindungi kami. Tapi kami ikut Tuhan karena kami mengasihi Dia dan kami memiliki hubungan yang erat dengan Dia. Kami mengenal Dia dan kami tahu sifat-sifatNya.” Mereka juga sedang berkata, “Sekalipun doa kami tidak dijawab, hal itu tidak akan mengubah komitmen kami untuk mengikuti Tuhan.” Inilah orang-orang yang  mengenal  Allah.

Tuhan berdaulat atas hidup kita. Kita adalah tanah liat dan Tuhan penjunan, jangan dibalik. Dia ‘Tuan’, kita hamba-Nya. Seringkali kita salah dalam menempatkan diri. Memang benar bahwa hubungan dengan Bapa penting, tapi jangan lupa bahwa kita ini ‘hamba-Nya’.

Perhatikan akibat dari pengenalan mereka akan Tuhan:

  • Allah berjalan bersama mereka dalam perapian.
  • Raja kafir mengakui kebesaran Allah yang mereka sembah.
  • Mereka mendapat promosi jabatan yang tinggi. Kedudukan dan jabatan diperoleh setelah melalui dapur api.

Ada dua pertanyaan yang perlu kita jawab:

“Adakah  saya tunduk pada berhala?”
“Dapatkah saya berdiri teguh mempercayai firman Allah tanpa kompromi, apapun resikonya?”

Leave a Reply