Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Menjadi Tanah Yang Baik

Ringkasan khotbah Pdt. Onna Tahapary
IR II – Minggu, 20 Maret 2016

Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa ada beragam jenis tanah, ada beragam reaksi manusia, yang membatasi kemampuan Tuhan untuk membuat kita berakar dalam kebenaran lalu bertumbuh ke atas dan menghasilkan banyak buah. Reaksi kita akan menentukan siapa kita ke depan. Tuhan menyiapkan banyak hal, tapi kalau kita salah berekasi, maka kita tidak akan menikmati rancangan Tuhan yang maksimal bagi hidup kita.

3 “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.”14 Penabur itu menaburkan firman. (Markus 4:3, 14)

Ayat 3 dimulai dengan kata ‘Dengarlah’. Yang dalam terjemahan aslinya kita akan menemukan empat makna. Jadi waktu Tuhan berbicara, Dia mau supaya semua orang yang mendengarkan, bukan hanya pakai telinga. Yang Tuhan maksudkan adalah kita harus terbiasa dengar firman Tuhan menggunakan intelektual, jangan pakai perasaan. Sebab jika kita pakai perasaan maka yang terjadi adalah firman yang kita tidak suka kita akan tolak, yang kita sukai baru kita terima. Jika kita mendengar pakai intelektual, maka langkah kedua adalah kita akan mudah mengetahui tentang kebenaran. Langkah ketiga, kita akan mudah untuk memahami kebenaran. Kekuatan dari memahami kebenaran dengan intelektual akan menuntun kita kepada tindakan ketaatan kepada firman yang kita dengar.

Waktu Alkitab berkata, Seorang penabur keluar untuk menabur, yang ditabur adalah firman Allah. Tujuan dari firman Allah ditabur adalah supaya di bagian akhir kita didapati sebagai pribadi-pribadi yang terbiasa taat karena mendengar. Kata ‘penabur’ diambil dari bahasa Yunani ‘Speiro’. Speiro punya pengertian: Pertama; Menyebarkan firman. Makna dari kata menyebar adalah berupaya seluas mungkin. Kedua; Mengembangkan dan memperluas pemahaman tentang kebenaran. Pertanyaannya, jika benih itu jatuh pada bermacam-macam tanah, apakah itu salahnya penabur? Jawabnya tidak, karena maksud utama dari penabur adalah firman memang harus disebar kepada siapa saja. Siapa saja yang mendengarkan firman, mereka harus mengalami perluasan pemahaman mengenai kebenaran. Itulah tujuan firman Allah diberitakan.

1. Markus 4:4,15

Ingat, firman tetap disebar dan semua orang punya hak untuk mendengar, tapi kita harus putuskan untuk bereaksi benar. Sebab waktu firman Allah disebar iblis akan mengambil firman. Kata ‘mengambil’ (airo) artinya ‘removing’; menggeser esensi firman dalam pemahaman kita lalu menggantikannya dengan pemahaman bahwa firman Allah itu kesia-siaan.

Orang yang disebut sebagai tanah di pinggir jalan adalah mereka yang memiliki pemahaman bahwa firman ini tidak penting. Yang Tuhan mau adalah kita memahami “Kenapa saya ke gereja? Kenapa kita harus mendengar firman?” Supaya kita tiba pada makna dasar yaitu keyakinan bahwa firman Allah yang ditabur kepada kita adalah hal esensi, firman Allah bukan kesia-siaan, firman Allah tidak percuma.

Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. (Markus 4:4)

Burung datang dan makan itu firman. Kata yang dipakai adalah ‘katesthio’ artinya membuang firman dengan percuma karena firman itu sia-sia. Ketika kita dengar firman Allah, kemudian intelektual kita berkata “Firman itu tidak penting, firman itu sia-sia, percuma tidak esensi bagi kita.” Ini adalah kategori orang yang di pinggir jalan.

Kata sia-sia memiliki makna ‘mataiotes’ artinya; fana, lemah, tidak nyata. Orang-orang yang di pinggir jalan selalu beranggapan bahwa firman Allah itu tidak nyata, tidak up to date, lemah, gagal fungsi dalam kehidupan kita. Padahal yang tidak up to date itu agama. Agama tidak up to date, tidak memahami realita perkembangan dan lajunya cara Tuhan bergerak. Tapi selama kita berakar pada firman Allah, maka kita akan memahami benar bahwa pergerakan Tuhan dan cara Tuhan berpikir, lalu mengerjakan apa yang Tuhan mau.

2. Markus 4 :5-6, 16-17

5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

Ayat 16, Menjadi gembira karena mendengar khotbah bagus saja tidak cukup. Persoalan orang-orang dengan kategori ini adalah benih itu tumbuh tapi tanahnya tipis. ‘Tanah tipis’ diambil dari kata ‘Bathos’ yang artinya kemiskinan untuk memahami kedalaman tentang Allah. Artinya Alkitab lagi menerangkan bahwa menerima dengan bahagia saja tidak cukup. Pemahaman tidak terjadi dengan tiba-tiba waktu kita berdoa. Tapi pemahaman muncul dari keputusan untuk merenungkan ulang perkataan Tuhan. Jadi kita harus bangun budaya baru yaitu senang dengar khotbah, tapi kemudian pulang renungkan ulang. Semua orang yang bahagia dengar firman, tapi tidak merenungkan, mereka akan kenal Allah dari apa kata orang. Mereka ini akan digiring kepada satu proses uji coba. Ingat kisah Ayub, Ayub berkata kepada Tuhan,

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5).

Kata ‘Memandang’ di sini bukan persoalan melihat Tuhan secara fisik, tapi maknanya adalah “Sekarang saya paham benar siapa Engkau.” Sebab itu waktu menjelaskan tentang tanah berbatu Yesus berkata,

“… mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.” (Markus 4:17).

Jadi jika kita suka dengar firman tapi tidak merenungkan, maka cepat atau lambat kita akan ditemukan murtad. Murtad bukan berarti pindah agama. Murtad diambil dari kata ‘skandalizō’ yaitu skandal, artinya terjebak dalam dosa atau dalam kesalahan.

Pengertian murtad yang kedua adalah meninggalkan gaya hidup percaya dan gaya hidup taat kepada kebenaran. Jika kita mengaku bahwa Kristus Raja dan kita tinggal dalam KerajaanNya, tapi kita tidak hidup dalam kebenaran dan taat pada firmanNya, sesungguhnya kita adalah orang-orang yang murtad.

 

3. Matius 13:7; Markus 4:18-19

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. (Matius 13:7)

18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, 19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. (Markus 4:18-19)

Jika kita bereaksi seperti semak duri, apapun kegiatan rohani yang kita lakukan hasilnya tidak berbuah. Jebakan semak duri yang pertama adalah kekuatiran dunia dan setiap kita harus merdeka dari jebakan kekuatiran dunia. Kita sangat tahu bahwa Tuhan kita adalah ‘Imanuel’. Kita juga tahu bahwa ‘Tuhan itu gembala’. Masalah kita adalah firman itu tidak mengakar dan membuat kita tidak berbuah. Hal ini karena kita menggeser kebenaran dan terkesima dengan realita kekuatiran dunia. (Baca Matius 6:30-34).

Kita kuatir seperti dunia kuatir karena; Pertama,  kita kurang percaya. Kedua, kita tidak mengenal Tuhan. Cara terbaik untuk bebas dari semak duri adalah “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.” Artinya biarkan Tuhan jadi raja dan memerintah utuh dalam kehidupan kita. Jika kita biarkan Tuhan memerintah atas hidup kita, jika kita biarkan kebenaran menguasai intelektual kita, maka secara natural kita akan terbebas dari kekuatiran dunia. Jebakan semak duri yang kedua adalah ‘Tipu daya kekayaan’. Tipu daya dalam bahasa asli ‘apatē’ yang artinya ‘delusion’ (khayalan).

Jadi orang tidak berbuah karena khayalan tentang kekayaan (kemakmuran, uang dan posisi). Orang yang terjepit semak duri adalah orang-orang yang terbiasa meyakini ilusi. Itulah sebabnya orang harus melepaskan kebergantungan kepada kemakmuran, uang dan posisi. Jebakan semak duri yang ketiga adalah keinginan-keinginan (epithumia). Epithumia artinya keinginan-keinginan yang melanggar kebenaran. Seringkali kita ada dalam posisi seperti ini, yaitu tahu tentang kebenaran tapi tiba-tiba muncul keinginan lain dalam pikiran. Semua manusia punya keinginan, tapi pastikan bahwa keinginan-keinginan itu tidak melanggar kebenaran firman Tuhan. Jika kita melanggar dengan sengaja, itu tandanya kita adalah semak duri.

4. Matius 13:8-13

8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.

Kata ‘baik’ diambil dari kata ‘kalos’ yang artinya dewasa dan bertumbuh secara natural dalam perubahan karakter. Jadi yang Yesus maksudkan adalah penabur menabur firman supaya orang mengalami perluasan pemahaman akan kebenaran lalu orang menjadi dewasa dan mengalami perubahan perilaku secara natural. Jadi kalau kita dengar firman supaya kita menjadi dewasa, bertumbuh, secara natural dalam perubahan karakter. Jika hal ini menjadi pengejaran kita, maka kitalah yang dimaksudkan  dengan tanah yang baik.

Pengertian kedua dari ‘kalos’ adalah beradaptasi dengan sangat baik. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Kekuatan dari manusia adalah mampu beradaptasi dengan segala situasi dan kondisi. Persoalan kita adalah setiap kali berkaitan dengan firman Allah kita menuntut Tuhan yang beradaptasi dengan keterbatasan kita. Padalah Alkitab menerangkan bahwa Tanah yang baik adalah mereka yang memutuskan dengarkan firman dan beradaptasi dengan firman Tuhan.

Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. (Matius 13:11)

Kata ‘rahasia’ disini maksudnya adalah Tuhan membuka diriNya untuk kita memahami siapa Dia. Semakin kita berhubungan karib dengan Tuhan, maka Tuhan membuka dirinya untuk kita pahami. Siapa pun yang mau mengenal Tuhan lebih dalam, maka dia harus beradaptasi dengan baik terhadap firman Tuhan. Amin.

Leave a Reply