Loading…

READY TO ROCK?

Click the button below to start exploring our website and learn more about our awesome church
Start exploring

Belajar Mendengar

Ringkasan khotbah Pdt. Chris Manusama
Minggu, 28 Februari 2016

Tema besar kita tahun ini adalah ‘Membangun’. Namun yang kita bangun bukan hanya fasilitas ibadah, tapi kita juga sedang membangun kehidupan yang berjalan dengan Allah, hidup yang mengenal siapa Tuhan kita.

Jika kita percaya bahwa Tuhan tidak berbicara lagi kepada kita, sementara ada banyak suara yang kita dengar dari luar. Pertanyaannya, “Siapakah yang diuntungkan?” Kenapa kita melakukan kesalahan, kenapa kita jatuh? Jawabannya adalah karena kita menuruti suara-suara yang lain yang bukan suara Tuhan.  Kita harus percaya bahwa sampai saat ini Tuhan masih berbicara kepada kita.

Bagaimana caranya kita mendengar suara Tuhan?

Hal yang pertama adalah kita harus percaya.

28 Datanglah kepada-Ku kamu semua yang lelah, dan merasakan beratnya beban; Aku akan menyegarkan kamu. (Matius 11:28 – BIS)

Ayat ini memberi kesan bahwa Tuhan kita bukanlah Tuhan yang suka mengancam dengan segala macam aturan. Tapi Dia tahu kita sedang hidup di dunia yang dapat membuat kita lelah, dan merasa beban hidup ini berat. Banyak orang belum datang kepada Tuhan karena mungkin mereka belum lelah, merasa masih bisa hidup tanpa Tuhan. Ada banyak orang merasa Tuhan saja belum cukup, perlu ditambah dengan usaha ini dan itu. Kadang  kita mengaku diri Kristen, tapi kita sedang membangun hidup dengan sistem kepercayaan dunia. Akhirnya ketika beban hidup yang berat datang, kita stress dan salah menilai Tuhan.

Hari Senin sampai Sabtu begitu banyak perkataan yang datang menekan. Tuduhan serta intimidasi datang, sehingga kita menilai diri kita selalu kurang dan selalu gagal. Pertanyaannya, “Siapa yang bisikan hal-hal itu?” Walaupun ada fakta dimana mungkin kita pernah melakukan kesalahan.

29 Ikutlah perintah-Ku dan belajarlah daripada-Ku. Sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati, maka kamu akan merasa segar. (Matius 11:29 – BIS)

Kata yang dipakai untuk ‘rendah hati’ di sini adalah ‘Power under Control’. Artinya Dia Tuhan, Dia bisa saja marah, namun Dia memiliki kuasa untuk mengontrol emosi.  Jadi jika kita belajar dari Tuhan dan mengikuti perintahNya, maka Tuhan akan memperkenalkan diriNya. Kita bukan baru pernah membaca ayat ini, tapi masalahnya adalah kita tidak percaya bahwa Tuhan kita lemah lembut dan rendah hati.

30 Karena perintah-perintah-Ku menyenangkan, dan beban yang Kutanggungkan atasmu ringan.” (Matius 11:30 – BIS)

Perintah-perintah Tuhan itu menyenangkan, jika dibandingkan dengan perintah-perintah yang kita terima sejak kecil dari orang tua, guru atau yang lainnya. “beban yang Kutanggungkan atasmu ringan.” Masalah kita adalah cara kita menjalani hidup. Mungkin ada beban-beban yang kita pikul bukan dari Tuhan Yesus. Itulah yang membuat kita merasa lelah.

Seringkali Tuhan menghentikan kita dalam perjalanan hidup ini, tapi kita melawan dan terus berjalan. Akhirnya kita babak belur, lalu kita berpikir,  “Tuhan tidak memperhatikan saya.”

Yohanes 15:1-5 (BIS)

1 Kata Yesus lagi, “Aku pohon anggur yang sejati, dan Bapa-Ku adalah tukang kebunnya. 2 Setiap cabang pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya, dan setiap cabang yang berbuah, dikurangi daunnya dan dibersihkan-Nya supaya lebih banyak lagi buahnya.

Kita ini hanya cabang dari pokok anggur, jika kita tidak bersih, Tuhan tahu bagaimana harus membersihkan kita. Tujuannya supaya kita berbuah banyak. Tuhan tahu bagaimana mengurus kita.

4 Tetaplah bersatu dengan Aku dan Aku pun akan tetap bersatu dengan kalian. Cabang sendiri tak dapat berbuah, kecuali kalau ia tetap pada pohonnya. Demikian juga kalian hanya dapat berbuah, kalau tetap bersatu dengan Aku. 5 Akulah pohon anggur, dan kalian cabang-cabangnya. Orang yang tetap bersatu dengan Aku dan Aku dengan dia, akan berbuah banyak; sebab tanpa Aku, kalian tak dapat berbuat apa-apa.

Ini adalah satu cerita yang penting untuk menggambarkan kepada kita bahwa kehidupan mengalir dari pokok anggur ke carang-carangnya. Carang dan dahan hanyalah saluran. Kita adalah carang yang yang hidup dari sumber (pokok) yaitu Tuhan sendiri.  Jika kita berjalan dengan Tuhan, ada hal-hal yang Tuhan bersihkan dari hidup kita, supaya kita dapat mendengar suara-Nya, karena di luar ada banyak suara yang lain.

Untuk berhasil, sukses dan bahagia, seringkali kita berpikir bahwa Tuhan saja tidak cukup. Ini adalah bentuk ketidak percayaan. Waktu domba-domba mengikuti gembala, mereka menemukan padang rumput. Artinya mereka menemukan kehidupan. Jika kita adalah domba-domba yang Tuhan gembalakan, kita harus siap untuk kehidupan yang Tuhan berikan.

Ada banyak pengajaran di luar yang dapat membuat kita diobang-ambingkan. Sebab itu kita harus mengenal suara Tuhan.

Yohanes 10:3-4 (BIS)

3 Penjaga kandang membuka pintu untuk dia, dan domba-domba mengikuti suaranya pada waktu ia memanggil mereka dengan namanya masing-masing dan menuntun mereka ke luar.

Tuhan mengenal kita dan Dia memanggil kita dengan nama kita masing-masing.

4 Setelah domba-domba itu dibawa ke luar, gembala itu berjalan di depan, dan domba-domba itu mengikuti dia sebab mereka mengenal suaranya.

Kita harus mengerti status kita di dalam Tuhan. sebab Alkitab mengundang kita untuk satu hubungan yang intim dengan Allah.

28 TUHAN berfirman kepadanya: “Akulah TUHAN; katakanlah kepada Firaun, raja Mesir, segala yang Kufirmankan kepadamu.”  29 Tetapi Musa berkata di hadapan TUHAN: “Bukankah aku ini seorang yang tidak petah lidahnya, bagaimanakah mungkin Firaun akan mendengarkan aku?” (Keluaran 6:28-29)

Ternyata yang Musa takutkan bukan karena dia tidak pandai berbicara, tapi waktu dia berhadapan dengan Firaun atau berhadapan dengan bangsa Israel dia harus menyebutkan nama Tuhan sebagai yang mengutusnya. Musa sadar bahwa dia tidak petah lidah untuk menyebut nama Tuhan. Sebab dalam perjanjian lama, jika kita salah menyebut nama Tuhan, maka akibatnya mati. Ada referensi yang mengatakan bahwa Tuhan mengubah namaNya menjadi 4 huruf mati (YHWH) supaya Musa bisa sebutkan nama Tuhan.

Mazmur 32:8-9 (BIS)

8 Kata TUHAN, “Aku akan menunjukkan jalan yang harus kautempuh, engkau akan Kubimbing dan Kunasihati.

Cara Tuhan untuk bimbing kita bisa melalui banyak hal, misalnya melalui alam atau peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

9 Jangan seperti kuda yang tidak berakal, yang harus dikendalikan dengan kekang dan tali supaya menurut.”

Jika kita berserah pada Tuhan, maka Dia akan mengurus kehidupan kita sampai hal-hal yang detail.

Kautunjukkan kepadaku jalan menuju kehidupan; pada-Mu aku mendapat kegembiraan berlimpah dan kebahagiaan untuk selama-lamanya. (Mazmur 16:11 – BIS)

Untuk mendengar suara Tuhan harus dimulai dari langkah yang sederhana. Jangan mulai dari hal-hal yang besar seperti; mencari pasangan hidup atau memilih pekerjaan.

11 “Keluarlah dari gua itu,” kata TUHAN kepadanya, “dan berdirilah menghadap Aku di atas gunung.” Lalu TUHAN lewat di situ, didahului oleh angin yang bertiup kencang sekali sehingga bukit-bukit terbelah dan gunung-gunung batu pecah. Tetapi TUHAN tidak menyatakan diri di dalam angin itu. Sesudah angin itu reda, terjadilah gempa bumi, tetapi di dalam gempa itu pun TUHAN tidak menyatakan diri. 12 Kemudian datanglah api, tetapi TUHAN pun tidak berada di dalam api itu. Sesudah itu suasana menjadi senyap, lalu terdengar suatu suara yang kecil lembut. 13 Ketika Elia mendengar suara itu, ia menutup mukanya dengan jubahnya, lalu keluar dan berdiri di mulut gua itu. Maka terdengarlah suara yang berkata, “Elia, sedang apa kau di sini?” (1 Raja-raja 19:11-13)

Kisah Elia ini adalah salah satu cara Tuhan mendidik kita untuk mendengar suaraNya. Ayat 11, keluar dari gua bicara tentang keluar dari apa saja yang mengurung kita. Ini adalah pelajaran yang indah dimana kita perlu duduk tenang, keluar dari dram-drama kehidupan kita. Keluar dari pikiran-pikiran yang mengembara, sementara kita memeriksa sikap hati kita, maka kita akan mendengar  Tuhan  berbicara.

Sekarang pertanyaannya bagi kita, “Apakah kita siap untuk mendengarkan apapun yang Tuhan mau jawab?” Apa saja yang kita tanyakan kepada Tuhan; Apakah tujuan hidup, pekerjaan, karier, bisnis dll. Jangan sampai kita hanya mau mendengar jawaban yang sesuai dengan keinginan kita.  Jika kita ada dalam kondisi ini, maka sikap hati kita tidak sedang dalam penyerahan terhadap Tuhan.

Hidup di zaman perjanjian lama adalah hidup di bawah hukum. Begitu kerasnya aturan itu sampai kita menjadi budak dari seluruh aturan itu. Dahulu Israel budak di Mesir, setelah mereka keluar, mereka diberikan hukum-hukum (peraturan-peraturan). Kemudian Israel berpindah dari budak Mesir menjadi budak hukum. Kita tidak hidup di zaman perjanjian lama, tapi spirit itu masih ada sampai hari ini. Kita jadi budak dari seluruh aturan-aturan itu.

Yesus datang dan mengambil semua tanggung jawab yang seharusnya kita pikul. Kemudian Yesus memberi satu perjanjian baru. Hidup di zaman perjanjian baru adalah hidup di dalam Roh dan dipimpin oleh Roh. Roh yang di dalam kita mengubah kita dan memampukan kita untuk melakukan perintah Allah. Dampaknya adalah  semua yang kita lakukan bukan karena takut dihukum, melainkan berdasarkan hubungan kasih. Waktu kita memberi persembahan, terlibat dalam pelayanan, menjadi berkat di manapun kita berada, semuanya itu karena kasih. Amin.

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, …..” (Kolose 3:15)

Leave a Reply